Senin, 05 Juli 2010

Suatu pagi di pukul 06.00

Percikan tumbukan air yang memancar keluar dari keran. Membasahi wajah, bahkan segenap tubuh. Serta memanggil jiwa untuk menyatu dengan rimbunnya kesatuan kami dibawah pancuran miniatur air terjun paling nyaman yang bisa kautemukan di pagi hari. Arus air dingin dan panas yang mengalun membangkitkan titik sensoris di sekujur permukaan kulit. Memijat dan memilin. Relaksasi terbaik. Oleh ahli terapis terbaik dunia, Air pancuran di kamar mandi.

Menyikat gigi adalah pemanggilan jiwa tahap kedua. Sebuah ritual. Proses penyucian ruh yang paling murni pada zaman masehi. Suara gigi yang berderak kasar akibat gesekan kepala sikat adalah mantera ampuh serupa komat-kamit burung gagak dalam upacara penyucian jiwa etnis mongol. Membuatmu khusyu mendengar sekali lagi keheningan yang hanya ditemani suara gesekan gigi oleh ujung kepala sikat. Bahkan terkadang sensasi itu membawamu hanyut ke dalam lubuk nurani yang bisa ditembus hanya melalui ritual sikat gigi. Sebuah dunia yang hanya ada kau dengan keheninganmu. Yang berjudulkan “Meditasi sikat gigi.”

Suara pengering rambut yang merongrong helai demi helai rambutmu yang basah adalah pengalaman lain. Lebih dari itu, nafasnya menghela kehangatan di penjuru tengkuk leher, wajah yang merah menghangat, dan sensasi rambut yang mulai mengering. Sungguh lembut. Seperti milik artis pemeran iklan sampo. Mendongkrak kepercayaan diri yang kau perlukan untuk menghadapi kota metropolitan yang kejam dan angkuh.

Walau pada akhirnya asap bajaj dan minibus akan menghajar rambut artismu dengan ganas. Membuatnya kusut lengkap dengan wajahmu yang lebam sisa karbon dan penampakan dahi depot minyak.

Tapi setidaknya ada usaha untuk menekan skeptisme yang dapat membuatmu kehilangan daya.

Sarapan. Secangkir si hitam legam di pagi hari. Yang menyalakan tombol “switch on”. Momen bangunnya eksistensi diri. Harum yang kau hirup lewat kedua lubang hidungmu adalah sebuah filosofi. “kopi adalah heharuman paling erotis yang membangkitkan gairahmu akan dunia”. Lalu kauputuskan untuk membiarkan satu sloki kopi membasahi rongga mulutmu. Senyap-senyap kopi yang mengalir itu kemudian mengajarimu satu hal lagi. Mengenai hidup yang tak cukup hanya dengan “menjalani”. Lebih besar. Hidup adalah “menciptakan”.

Sebelum kaki kau jejakan di atas ranah Tuhan. Ada sekantung cookies dan sebatang coklat yang diselipkan di balik saku kantong untuk dikulum ketika konsentrasi gula di aliran darah mulai menipis. Setidaknya dapat membungkam lambungmu yang meraung-raung minta disuapi untuk sementara.

Serta tak lupa satu kotak penuh gulali rasa petasan yang punya daya ledak tinggi serupa 1 kwintal TNT, cukup untuk menghalau kantuk yang mendera di tengah terik matahari. Menyalakan lagi hari disaat kortisol meninggi, neurotransmitter yang mogok jalan, penatnya pikiran, serta macetnya ide.

Tak lupa.

Percikan wewangian ala taman surgawi yang akan menghipnotismu bahwa mulai detik ini, harimu akan selalu mudah untuk dilalui.

Bukan. Harimu akan selalu mudah untuk diraih.

Lalu segenap warna mulai menghampiri duniamu. Lembayung, jingga, kemuning, delima. Mereka mengajakmu berderai, melerai.

Untuk memenangkan hari yang masih tersisa 18 jam lagi.

(5 juli 2010)