Senin, 22 Maret 2010

Selamat Ulang Tahun

Hari ini Adikku ulang tahun. Tapi aku belum juga punya uang untuk memberi ia hadiah. Bahkan lebih tepatnya lagi, aku kemungkinan besar tidak mendapat uang untuk hari ini. Pekerjaan? Jangan tanya… mencari dan mendapatkan pekerjaan di kota metropolitan ini amatlah sulit. Apalagi untuk aku yang hanyalah lulusan SMA dengan latar belakang keluarga yang rumit, sangatlah sulit untuk bos-bos itu mau menerima aku yang tidak mempunyai keahlian apapun.

***

"Kakak…. Aku ingin ulang tahun…!!! Teman-teman ade udah pernah ulang tahun semua, kaaakk… ade juga mauu…"

Itu rengek adikku pagi hari ketika dia baru saja bangun tidur. Aku pun hanya mengangguk untuk menenangkan rengekannya yang sudah dan pasti akan semakin menjadi-jadi.

Kau pasti berpikir "ulang tahun yaa ulang tahun saja… toh setiap tahun pasti kita ulang tahun.."

Tapi… Maksud adikku dengan "ulang tahun" itu adalah pesta perayaan ulang tahun lengkap dengan kue, kado, dan terompet. Sebenarnya dia sudah sibuk meminta "ulang tahun" itu sejak setahun yang lalu ketika dia genap berusia lima tahun. Namun ketika itu karena memang saku sama sekali tidak mempunyai apa-apa, bahkan uang untuk makan hari itupun entah darimana, jadi aku hanya menjawab

"ya… tahun depan yaa, de… kakak baru punya uangnya tahun depan…"

Aku juga menekankan kalau aku (itupun masih "mungkin") hanya bisa memberinya sepotong kue black-forest yang diimpi-impikannya selama ini untuk jadi kue ulang tahunnya. Setelah itupun, adikku (mungkin karena belum paham dan masih terlalu kecil untuk memahami kondisi kami) tak hentinya merajuk dan "ngadat" selama satu minggu penuh. Baru membaik, setelah kuajak keliling kota dengan bis kopaja dengan menggunakan uang jerih payahku sebagai tukang parkir semalam penuh sebelumnya.

Hari berganti hari

Tahun berganti tahun.

Besok adalah hari ulang tahun adikku

Dan dikantongku tidak ada uang sepeserpun.

***

Aku hidup berdua saja dengan adikku yang tahun ini akan berumur enam tahun . Sejak Kedua orang tua kami meninggalkan kami empat tahun yang lalu, akulah yang mengurusi keperluan kami berdua dan menjadi orang tua pengganti bagi adikku satu-satunya yang paling aku sayang di seluruh dunia.

Sebenarnya dulu keluarga kami hidup berkecukupan, walau tidak bisa disebut berada. Ayahku adalah manager keuangan di perusahaan konstruksi di ibu kota, sedang ibuku bekerja sebagai akuntan di perusahaan yang sama. Penghasilan mereka berdua bahkan bisa dipergunakan untuk membeli sebuah rumah cukup besar di kompleks perumahan yang cukup elit pula di bilangan Jakarta Timur, dua buah kendaraan pribadi untuk kedua orang tuaku, dan sebuah motor untuk kupergunakan bepergian ke sekolah atau hanya sekedar main.

Awalnya aku anak tunggal. Bisa dibayangkan kan bagaimana melimpahnya kasih sayang yang orang tuaku curahkan untukku. Hingga akhirnya ibuku hamil di usianya yang telah menginjak kepala empat. Seperti yang kita tahu, usia tersebut adalah usia rawan wanita untuk hamil. Dokter pun sudah memperingatkan ibuku yang selain sudah berusia kepala empat juga memiliki riwayat hipertensi, namun karena ibu berkeras bertahan untuk memberiku adik maka ia mempertahankan kehamilannya. Katanya, ia ingin meramaikan kembali suasama rumah kami dengan kehadiran anak yang ada di perutnya itu.

Aku pun turut bahagia mendengar kehamilan ibu. Mengingat sudah 15 tahun masa hidupku aku merasa kesepian di rumah. Ayah ibuku sibuk bekerja, sehari-hari aku hanya ditemani Mbok Sum, pembantu yang sudah kuanggap nenekku sendiri. Bahkan nampaknya aku adalah orang pertama yang paling antusias dengan kehamilan ibu. Setiap hasil pencitraan USG adikku (yang ternyata seorang perempuan loh.. heheh) di setiap kunjungan prenatal ibuku, aku kumpulkan di satu album foto. Cantik sekali adikku ini begitu kulihat bayang wajahnya di foto USG itu. Sampai-sampai ayah ibuku geli sendiri melihat begitu apiknya aku mendokumentasi calon adik baruku ini. Mengingat aku ini lelaki, jarang-jarang ada laki-laki yang begitu antusias dengan segala tetek bengek yang menyangkut keluarganya. Apalagi soal kehadiran calon anggota keluarga kami yang baru.

Ini kan adik yang kutunggu-tunggu… heheheh

Minggu berganti minggu, hingga usia kandungan ibuku telah menginjak 35 minggu. Dokter telah memperkirakan adikku akan lahir dua minggu lagi. Namun takdir berkata lain, seminggu sebelum waktunya, tiba-tiba ibu jatuh tersungkur dan pingsan. Kami yang kebetulan ada di rumah saat itu panik, dan langsung membawa ibu ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di ruang UGD, keadaan ibuku bukannya membaik, malah menjadi koma.

Kami semua bukan main paniknya. Ayahku yang biasanya tenang hanya duduk di tepi kursi sambil termenung dan sesekali menyeka air matanya. Aku..? Jangan tanya… aku sudah meraung-raung bahkan sejak kami masih di kendaraan menuju rumah sakit.

Dokter yang sedang jaga di UGD saat itu memberi tahu kami. Beliau bilang, ibuku diperkirakan mengalami eklampsia. Penyakit hipertensi ibu hamil yang berujung pada kejang dan akhirnya koma. Seperti yang dialami ibuku saat ini. ia juga berkata nyawa ibuku dan nyawa adikku yang masih di rahimnya dalam keadaan terancam. Kemungkinan terburuknya kami akan kehilangan keduanya. Maka kami diminta untuk memilih salah satu : ibuku atau adikku.

Ayahku memohon kepada dokter untuk melakukan segala upaya untuk menyelamatkan ibuku. Ia menyerah akan nasib adikku. Aku tak sanggup mendengar lagi. Setelahnya aku hanya lemas dan sudah tak bisa berkata apa-apa lagi.

Adikku dikeluarkan dari perut ibuku dengan operasi sesar. Tanpa diduga, adikku sehat walafiat, tak kekurangan sesuatu apapun dan montok sekali.

Namun setelah operasi, ibuku ternyata tak kuat lagi.

Tuhan mengambil ibuku.

Jangan kau bayangkan keadaan kami saat itu. Sudah pasti hancur. Kami bahkan tidak, sama sekali tidak merasa senang dengan kehadiran anggota keluarga kami yang baru.

Bukan berarti kami membenci anak ini. Tapi kami hanya tidak tahu musti bahagia atau sedih.

Setelah itu kehidupan kami menjadi abnormal. Ayahku depresi berat. Hingga sering pulang malam dalam keadaan mabuk. Aku yang masih bersekolah kelas 1 SMA, setelah pulang harus mengurusi adikku dan menggantikan peran ibuku di rumah. Mengepel lantai, mencuci pakaian, menyetrika, membeli kebutuhan sehari-hari, bahkan memasak. Mbok Sum? Sejak kepergian ibuku, ia mohon diri untuk pulang ke kampung. Ia berkata ia terlalu sedih untuk melihat kami dalam keadaan susah sepeninggalan ibu. Aku mengizinkannya. Ia sudah tua… lagipula aku sudah cukup besar untuk diurusi oleh Mbok Sum.

Tidak ada siapa-siapa lagi di rumah. Hanya aku, adikku dan ayah yang selalu pulang larut itu.

Aku sering bertengkar dengan Ayahku karena keberatan akan tingkah lakunya. Tapi ayahku hanya acuh tak acuh. Lalu kudapat kabar kalau akhirnya perusahaannya memecatnya. Mungkin karena tidak fokus lagi pada pekerjaannya.

Sejak saat itu, kebiasaan buruknya makin menjadi-jadi.

Hingga suatu malam, ada dering telpon dan seseorang di seberang sana berkata bahwa ayahku mengalami kecelakaan. Aku lalu bertanya bagaimana keadaan ayahku. Ia hanya menjawab mobilnya hancur lebur.

Dari situ aku sudah tahu ayahku sudah tiada.

Sejak saat itu, aku hanya hidup berdua saja dengan adikku. Hingga uang peninggalan orang tua kami tak sanggup lagi menghidupi kami berdua dan membiayai sekolahku, dan bahkan untuk membayar hutang kedua orang tuaku. Aku menjual semuanya. Rumah, mobil ibuku, motor milikku, dan semuanya. Hingga habis tak berbekas. Tidak ada lagi yang tersisa. Bahkan cincin pernikahan kedua orang tuaku pun tidak kusimpan.

Terlalu sakit. Terlalu pedih untuk kusimpan dan kukenang.

Kami saat ini hanya tinggal di kamar kos pengap yang kukontrak dari hasil kerja serabutan, dan tidur beralaskan tikar.

Bagiku, tak apa tak ada kemewahan lagi yang dulu sempat kukecap. Masih ada adikku. Hartaku yang paling mahal. Yang paling berharga. Satu-satunya peninggalan orang tuaku. Satu-satunya yang aku miliki sekarang.

Sekarang kau mengerti kan mengapa aku sayang sekali kepada adikku?

***

Akhirnya siang tadi ada seorang temanku yang memintaku menggantikannya bertugas untuk menjadi tukang parkir di Senayan. Walau cukup jauh dari kosanku, tanpa pikir panjang langsung ku terima saja. Alhamdulillah, sampai maghrib ini sudah banyak kendaraan yang bergantian memasuki areal parkiran. Aku sudah mendapat dua puluh ribu, sudah kupotong untuk membeli sepotong lontong untuk makan siang tadi.

Sambil menunggui mobil-mobil ini, aku teringat kembali saat ku pergi dari kosan ku tadi. Saat itu, aku berpamitan pada adikku sambil berkata…

"doakan kakak yaa… supaya dapat duit banyak untuk ulang tahun ade…"

Tahu tidak apa yang adikku lakukan setelahnya?
Ia kemudian menengadahkan tangannya dan berdoa keras-keras. Begini doanya…

"bismillahirrohmanirrohim… Ya Allah… ade minta duit yang banyak untuk kakak dan untuk ade… bismillahitawakaltu alallohi la hawla wala kuwwata illabillah… kakak ikutin dong… supaya Allah dengerin doa ade…."

Lalu kami pun bersama-sama melafalkan doa yang ditujukan untuk orang yang akan bepergian tersebut.
Aku tersenyum mengingatnya. Sudah besar ia sekarang. Sudah hapal doa apa saja yah dia..?

Sekarang sudah pukul sembilan malam. Tinggal setengah jam lagi, setelah itu aku pulang, ujarku dalam hati. Semoga adikku belum tidur. Ia sudah tidur belum yaa..? aku sudah meminta ia menungguku pulang membawakan "ulang tahun" untuk kami rayakan. Aku juga sudah menitipkannya dengan tetangga sebelah untuk menemaninya.

Akhirnya tiba waktuku untuk pulang. Sudah pukul setengah sepuluh malam… aku sudah mengantongi tiga puluh ribu. Cukup untuk membeli satu slice black forest, pikirku. Tapi aku harus bergegas, karena pukul sepuluh malam biasanya toko kue sudah tutup.

Sekarang tinggal membeli kuenya. Dan tentu mencari toko kue.

Kususuri jalanan mencari toko kue yang masih buka. Jalanan sudah lengang. Sudah ribuan detik aku berjalan, hanya gelap. Tidak ada yang buka.

Bagaimana ini…??

Waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Adikku pasti masih menantiku…

Setelah beribu lekukan jalan kulalui, akhirnya kudapati sebuah toko kue kecil di pojokan jalan. Dengan terburu-buru, aku meminta pelayannya untuk cepat-cepat membungkuskan satu potong kue black forest. Dan untungnya setelah kutanya harganya, pas sekali dengan isi kantongku.

Tiga puluh ribu rupiah.

Pelayannya lalu bertanya..
"habis kerja, mas…? pasti buat pacarnya ya..?"

Aku tersenyum dan menggeleng…
"bukan, mbak… ini untuk ulang tahun adik saya… mbak, ada secarik kertas..? Boleh saya minta?"

"oooh begitu..? Kalau begitu ini saya kasih bonus satu potong lagi ya untuk mas… tenang saja mas.. Masih jam sebelas lewat lima belas menit… masih lama.. Nih mas kertasnya… ini pulpennya", ujarnya lagi.

"makasih banyak yah, mbak… iya nih.. Tapi sayah masih harus lari lagi ke rumah saya, uang saya sudah habis untuk ini.." jawabku sambil menunjuk bungkusan black forest yang baru saja ia sodorkan sambil sibuk menulisi kertas yang ia berikan.

Setelah selesai ku tulis kartu ucapan (sebenarnya tidak layak disebut kartu sih…) lalu kuserahkan kembali pulpen kepada pelayan toko kue tersebut sambil kuucapkan terima kasih.

"begitukah..? Kalau begitu semangat mas…!", tambahnya lagi.

Tanpa banyak kata, aku hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan toko.

Alhamdulillah.

Setelah berhasil kudapatkan sang kue ulang tahun, lalu aku berlari kencang sekali…

Dalam hati kuberdoa…

"Tahanlah wahai waktu…
Jangan berjalan wahai waktu…

Ada selamat ulang tahun…
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk adikku yang paling kusayangi…

Tolong Tuhan…
Aku ingin melihat senyuman adikku dan mendengar riang tawanya
Setelah terjaga semalaman menantiku…"

Dengan senyuman lebar dan dengan masih membawa bayangan wajah adikku yang tertawa girang, aku terus berlari dan berlari.

"Tunggu aku ya dek..."

***

10 tahun kemudian

***


"Kak… ini aku adikmu…

usiaku sekarang sudah genap 16 tahun. Sama dengan usia kakak, waktu aku hadir ke dunia untuk menemani kakak.

Bagaimana kabar kakak…?

Ade baik-baik aja kok, ka...
Aku sekarang tinggal bersama dengan Ibu Sud. Itu tetangga kita tempo hari. Beliau sungguh baik dan menyayangi aku sebagaimana putrinya sendiri. Beruntung aku mempunyai Ibu angkat seperti beliau. Kakak tak usah mencemaskan aku ya…

Sekarang aku sudah kelas 9 SMP, bulan depan aku sudah ujian akhir, kak… menuju SMA… doakan aku yah kak, supaya masuk SMA favorit seperti kakak.
Kakak mau tahu aku ranking berapa di kelasku tahun ini? alhamdulillah kak… aku masih peringkat satu di kelasku. Aku gak kalah pintar loh dari kakak. Raporku tentu cemerlang. Pokoknya aku gak mau kalah sama rapor kakak.

Heheh..

Kak, maaf baru tahun ini aku bisa datang ke pusara kakak…

Sejak hari itu. Hari terakhir kakak mencium keningku dan berkata...

"doakan kakak yaa… supaya dapat duit banyak untuk ulang tahun ade…"

Hari dimana aku menunggu kakak yang belum juga pulang hingga jam 12 malam. Aku sudah tahu, saat itu sudah lewat tengah malam. Saat itu aku kesal sekali, dan bertanya-tanya mengapa kakak tak juga pulang. Dan berpikir, apa kakak ingkar janji lagi seperti tahun sebelumnya. Apakah ulang tahun yang kakak janjikan tidak akan ada?
Aku yang kesal akhirnya menangis sejadi-jadinya, namun mungkin karena terlalu lelah, pada akhirnya aku tertidur.

Ketika aku bangun di pagi hari, aku tidak melihat kakak di sampingku seperti biasanya. Aku sudah ada di gendongan Ibu Sud. Padahal tadinya aku mau merajuk pada kakak, loh…

Pada saat itu, sudah banyak sekali tetangga kita yang berkumpul di kamar kita. Kamar kita yang sudah sempit malah tambah pengap saja jadinya. Lalu kutanyakan kemana kakakku pada ibu Sud. Ia hanya menjawab….

"kakakmu sudah pergi, nak…"

Lalu kutanya lagi…

"belum pulang yah..?"

"sudah… sudah pulang…. Tapi udah ga sama dedek lagi.."

"haaa..? Kakak jahaaat… kakak kan udah janjiii buatin ulang tahun buat aku….! Kakaaakkk jahaaaatt..! Mana ulang tahun akuuuu…?!?"

Pecahlah tangisku.

Saat itu, aku yang belum mengerti maksud ibu Sud, lalu sibuk menangis dan menyumpahimu loh, kak.

Barulah sekarang aku mengerti, Ibu Sud sudah menceritakan peristiwa yang sebenarnya kepadaku ketika aku berumur 10 tahun. Beliau bercerita, ketika kau berlari tergesa untuk pulang, ada mobil yang tak menyadari engkau yang sedang menyebrang jalan. Mobil itu tak bisa mengelak. Engkau pun terpelanting. Dahimu mencium aspal. Meninggalkan bungkusan kue yang tercecer di jalan.

Dan meninggalkan aku untuk selamanya.

Ibu Sud pun menyerahkan kartu ucapan ulang tahun yang waktu itu masih tersimpan rapih di dalam bungkusan kue, yang diserahkan oleh pihak kepolisian untuk aku. Kartu itu bertuliskan…


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
selamat ulang tahun adikku…
Kakak akan selalu menyayangi adikku yang paling cantiiiiiik di seluruuuuhhh dunia…
Kakak doakan semoga ade menjadi anak yang sholeh…
Ade juga harus tambah sayang sama kakak yaa…

Kecup sayang dari kakak

NB : awas kalo gak dimakan kuenya…! Kakak bakal marah lohh...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kakak…

Aku cuma mau bilang…

Aku sayang banget sama kakak…
Kakak akan selalu menjadi kakakku nomor satu, cowok yang paling ganteng di seluruh dunia, cowok yang paling lembut di seluruh dunia, cowok yang paling baik di seluruh dunia…

Dan orang yang paling kucintai di seluruh dunia…

Kak…

Aku kangen sama kakak…"

***

"bismillahirrohmanirrohim… Ya Allah… ade minta duit yang banyak untuk kakak dan untuk ade… bismillahitawakaltu alallohi la hawla wala kuwwata illabillah… kakak ikutin dong… supaya Allah dengerin doa ade…."

***

The end

Selasa, 16 Maret 2010

wacana baru

hari ini setelah berkumpul dengan tiga orang sahabat, salah seorang (bernama kaka) diantaranya melempar wacana baru terhadap perkembangan blogku...

"teuu... gimana kalo blog kamu diubah jadi blog fashion..."

sebenarnya wacana ini sebelumnya sudah pernah terlintas di benak saya. hanya saja karena saya sibuk sana-sini (salah satunya juga sibuk tidur, penyakit anak muda....) jadi belum sempat saya implementasikan.. masih berupa ide...

kebetulan pula saya pun turut menaruh minat di bidang yang satu ini. pernah saya mempunyai mimpi untuk menjadi desainer (saya mempunyai hobi membuat sketsa rancangan pakaian, namun kebanyakan hanya digunakan untuk mengilustrasikan pekerjaan stylist saya di beberapa kesempatan bukan untuk dijadikan sebuah pakaian). tapi... saya belum bisa menjahit. jadi mungkin ini bisa jadi batu loncatan saya untuk mewujudkan mimpi saya.

bisa dibilang, saya berencana ingin menjadikan passion saya terhadap bidang ini bukan hanya sebagai hobi... namun tentu itu semua butuh proses yak.. (doakan yah... hehehe)

kembali lagi kepada wacana yang dilempar teman saya tadi. akhirnya saya menyanggupi ide sahabat saya. tapi...

"tapi... ka... saya kan gaptek... nanti kamu yang moto, udah gitu pang-editin, pokona sing alus wehlah... sayah dukung lah gagasan kamu..."

*emangnya yang punya blog siapee.... merah-merah di gigi.. cabe dee...*

Sabtu, 13 Maret 2010

Tips mendapat nilai bagus saat ujian...

belajar dan berdoa.

Tips melawan kantuk saat belajar

udah jam 11 malem..
alhamdulillah belum ngantuk...

*lha wong siang tadi udah ngebo...*

berikut ini adalah persiapan peralatan preventif menahan kantuk :
-mp3
-earphone
-kopi (gelas ke-3)
-permen karet (blister yang ke 2)
-bantal (untuk dipeluk supaya ga kedinginan)
-balsem

Dari keseluruhan peralatan tadi yang paling ampuh untuk saya adalah balsem...

kok bisa..??

*bisa dong...*

bukan buat diolesin di perut (mencegah masuk angin), bukan pula diolesin di dahi (meringankan nyeri kepala atau migrain)...
tapi diolesin di mata....

*are you sure???*

yee... tepatnya di kelopak mata bukan konjunktiva-nya... (buahaya tuu..)

guarantee 100% it do work..! semaleman dijamin mata melek...

*lebih tepatnya merem melek,,, kepanasan.. gyahahahahaha*

silahkan dicoba...

NB : jika ada komplikasi yang mendera, kemungkinan besar anda tidak melakukan sesuai dengan intruksi, jadi jangan salahkan saya.. lagian ngapain ngikut-ngikut saran dari saya... terima kasih.

Senin, 01 Maret 2010

Obsesi : Sambal

Mungkin semua sahabat saya pasti sudah hapal dengan obsesi saya akan satu hal ini. SAMBAL. Buat saya apapun makanannya, minumannya pasti sambal.

*heheh... kamu pikir saya bercanda? tidak kawan, saya serius..*

Dari sarapan nasi goreng di pagi hari dengan dua sendok makan sambal, kemilan berupa buah-buahan ibu M di kantin lengkap dengan satu sendok sambal cabe bubuk, kemilan kerupuk seblak (berupa kerupuk yang digoreng setengah matang disajikan dengan sambal cabe bubuk, rasanya...?? tentu pedas bukan main kawan..., teman saya pernah mencoba mengonsumsinya, percaya atau tidak, sampai merem melek dia, kawan...), makan siang berupa sekerat nasi dan lauk pauk serta tak lupa sambal, makan sore dengan menu yang sama dan tentu tak ketinggalan, sang belahan hati pun hadir, sambal.

Pernah suatu ketika saya membeli semangkuk bakso dan memberi empat sendok makan sambal di atas kuah bakso. saya biasa saja. teman-teman saya heboh. Mereka bilang...

"Tanteuu (panggilan sayang untuk saya dari sahabat-sahabat saya)... kamu makan bakso pake sambal atau makan sambel pake bakso..???"

*retoris... jawabannya pasti saya makan sambal pake bakso dong...*

Pengalaman saya dengan sambal tak terlepas hanya itu saja. Pernah suatu malam, waktu sudah menunjukkan jam 9, saya baru saja pulang kuliah. Perut sudah sibuk ngamen keroncongan bahkan mungkin sudah lagu rock sekarang, sedari masih di perjalanan menuju rumah dari kampus. Begitu sampai, langsung saja saya sambar penutup hidangan di atas meja makan. Ada nasi, sayur, beberapa kerat tempe tahu dan beberapa potong daging (saya tak ingat pasti daging apa... entah daging ayam, sapi, atau mungkin rusa atau gajah.. saya lupa...).

Ada yang kurang.

Ya.. apa lagi kalau bukan sambal....

Akhirnya saya putuskan untuk menggenapi lauk pauk teman nasi yang akan saya makan dengan sambal. "Okai, saya akan membuat sambal!" teguh saya dalam hati. Namun ketika saya membuka lemari pendingin, tidak ada sang cengek (cabai muda berwarna hijau yang ukurannya kurang lebih 1-2 cm -red)yang merupakan bahan dasar untuk membuat sambal.

tidak jadi membuat sambal...?

tidak mungkin.
saya sudah kadung bersemangat, pikiran saya sudah penuh dengan bayangan sambal terasi nan lezat dan menggoda itu sampai di ujung lidah saya. Air liur saya sudah tak bisa saya telan lagi.

Lalu saya berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan cengek di malam hari dimana semua warung yang ada sudah tutup??

Lalu terpikir satu ide...
bagaimana kalau saya meminta satu genggam cengek kepada tetangga sebelah...

konyol... pikir saya....

Lalu tercetuslah ide brilian.
yaitu membeli gorengan. Kalau beli beberapa bala-bala kan pasti diberi cengek kan...?

Okay...! berangkat...!

Dengan semangat, saya ayunkan kaki dan melangkah menuju abang-abang penjual gorengan langganan. Begitu sampai, pandangan saya langsung mencari-cari gorengan yang salty. Namun saya tidak melihat barang yang ingin saya beli, bahkan remahannya saja tidak ada. Lalu saya tanya si abangnya...

"om (*panggilan saya untuk abang-abang), bala-bala gak ada..?"

"udah abis, neng... "

"gehu..? mendoan...?"

"gak ada neng... ada juga pisang goreng..."

"yaudah deh... pisang goreng aja deh empat yak...!"

abang tukang goreng pun membungkuskan empat pisang goreng yang saya beli.

"ini, neng..."

"iya, om... eeeh... kela (bahasa sunda, artinya nanti dulu -red)... om, gimana sih ko gak ada cengeknya..??"

"neng, ari eneng.... makan pisang sama cengek..??"

Begitulah...
Akhirnya saya pun bisa mendapatkan cengek untuk membuat sambal.
Dan malam itu pun berakhir dengan bahagia.
Dan saya bisa tidur nyenyak.

Meninggalkan abang penjual gorengan dengan senyumannya.

geli dia.