bermimpi aku ke tengah padang pasir
meratap sempuan menari lalu melayu
seribu lalu pasir hinggap di puan pulasar tuan
lalu menunggu hempasan nyawa
aku terbang dan terbangun
ditampar segenap bunga rosalia yang mekar
rajam durinya mengenai lenganku kokoh
aku tak menghindar
hanya tertawa
dan menyindir mukaku tajam
beroleh muara lautan pilu
tak ada akhir untuk pulasar tuan
karena tak diawali oleh tuan
serta kubawa sendiri
menderu dalam hembusan abu pulasar tuan
(indarti: malam tak pernah padam. maret 2009)
Sabtu, 27 Februari 2010
Sepucuk Doa untuk Ayah
Namaku Meranti, panggilanku Ranti. Aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang hangat, ibuku seorang ibu rumah tangga yang jauh dari kata “hanya ibu rumah tangga”. Setahuku beliau makhluk paling hebat yang Tuhan ciptakan. Yah, ibu memang panutanku.
Aku ingat suatu saat, ketika aku masih bersekolah di SD, disaat ibu-ibu anak lain yang sedang menunggui anak-anaknya berkumpul dan bergosip, ibuku hanya duduk ditepian bangku sambil membaca buku dongeng untuk anak-anak. Bukan. Bukan berarti ibuku tak gaul atau tak pandai berbaur, hanya tak mau membuang waktunya untuk mempermalukan dirinya dan keluarganya dengan mempergunjingkan aurat orang. Itu yang aku tahu, walau ibuku tak pernah memberitahuku. Lalu mengapa ibuku membaca buku dongeng anak-anak? Untuk yang satu ini beliau menjawab.
“ ibu sedang mempersiapkan dongeng orang hebat siapa lagi yang akan ibu bacakan untukmu nanti malam.. agar kau kelak jadi orang yang hebat pula, putriku”
Ibu. Ibu. Ibu. Itu yang pernah Rasul bilang ketika ditanya kepada siapa kita berbakti. Tak salah memang.
Lalu Ayahku. Ayahku tak kalah hebat dari ibu. Ayah adalah pria paling lembut yang pernah aku kenal. Walau kami tak terlalu sering berinteraksi secara langsung, karena beliau sibuk mencari nafkah untuk keluarganya, namun hebatnya, beliau tak pernah lupa menciumi putra-putrinya yang sudah terlelap ketika beliau pulang larut malam. Setiap hari. Yah setiap hari beliau pulang larut, sudah sejak aku duduk di bangku TK. Kabarnya, yang kudengar dari Mbok Sum, wanita yang membantu ibuku dirumah, ayahku diangkat jadi wakil direktur di perusahaan pertambangan nasional tempat ayahku bekerja. Jadi wajar ayahku jarang ada di rumah ketika kami putra-putrinya sedang dalam kondisi “on”.
Pernah suatu ketika, Ayahku berjanji untuk membawa kami bermain ke taman hiburan ketika akhir minggu tiba. Tapi Saat tiba waktunya, ayah membatalkannya tiba-tiba karena ada rapat yang harus ia datangi. Padahal aku dan adikku, Tantri sudah menyiapkan sepasang baju renang kuning bermotif bentuk hati pink, dua ember kecil untuk bermain pasir lengkap dengan sekopnya, kacamata renang berwarna pink dan biru, serta tak lupa lipatan baju baru yang akan kami kenakan.
Tentu saja, aku dan adikku sudah pasti marah, dan mogok ngobrol dengan ayahku dua hari penuh. Walaupun sebenarnya untuk mengobati kekecewaan kami, sehari setelahnya kami sudah diajak ibu main ke kolam renang umum yang ada di kompleks perumahan sebelah kami. Tapi perlakuan kami pada ayah tetap tak berubah. Jutek saja.
Ayahku lalu membelikan kami es krim mencoba untuk meredakan amarah kami. Namun es krim yang ia sodorkan kami tepis dengan tangan dan akhirnya terjatuh ke lantai. What a spoiled babies... Aku selalu ingat ekspresi air muka ayahku dengan sorot matanya yang layu.
Malamnya, aku tak bisa tidur. Merasa tak enak hati ingin meminta maaf kepada Ayahku, tapi aku gengsi. Akhirnya aku putuskan untuk menulis surat untuk ayahku. Isinya seperti ini…
Aku ingat suatu saat, ketika aku masih bersekolah di SD, disaat ibu-ibu anak lain yang sedang menunggui anak-anaknya berkumpul dan bergosip, ibuku hanya duduk ditepian bangku sambil membaca buku dongeng untuk anak-anak. Bukan. Bukan berarti ibuku tak gaul atau tak pandai berbaur, hanya tak mau membuang waktunya untuk mempermalukan dirinya dan keluarganya dengan mempergunjingkan aurat orang. Itu yang aku tahu, walau ibuku tak pernah memberitahuku. Lalu mengapa ibuku membaca buku dongeng anak-anak? Untuk yang satu ini beliau menjawab.
“ ibu sedang mempersiapkan dongeng orang hebat siapa lagi yang akan ibu bacakan untukmu nanti malam.. agar kau kelak jadi orang yang hebat pula, putriku”
Ibu. Ibu. Ibu. Itu yang pernah Rasul bilang ketika ditanya kepada siapa kita berbakti. Tak salah memang.
Lalu Ayahku. Ayahku tak kalah hebat dari ibu. Ayah adalah pria paling lembut yang pernah aku kenal. Walau kami tak terlalu sering berinteraksi secara langsung, karena beliau sibuk mencari nafkah untuk keluarganya, namun hebatnya, beliau tak pernah lupa menciumi putra-putrinya yang sudah terlelap ketika beliau pulang larut malam. Setiap hari. Yah setiap hari beliau pulang larut, sudah sejak aku duduk di bangku TK. Kabarnya, yang kudengar dari Mbok Sum, wanita yang membantu ibuku dirumah, ayahku diangkat jadi wakil direktur di perusahaan pertambangan nasional tempat ayahku bekerja. Jadi wajar ayahku jarang ada di rumah ketika kami putra-putrinya sedang dalam kondisi “on”.
Pernah suatu ketika, Ayahku berjanji untuk membawa kami bermain ke taman hiburan ketika akhir minggu tiba. Tapi Saat tiba waktunya, ayah membatalkannya tiba-tiba karena ada rapat yang harus ia datangi. Padahal aku dan adikku, Tantri sudah menyiapkan sepasang baju renang kuning bermotif bentuk hati pink, dua ember kecil untuk bermain pasir lengkap dengan sekopnya, kacamata renang berwarna pink dan biru, serta tak lupa lipatan baju baru yang akan kami kenakan.
Tentu saja, aku dan adikku sudah pasti marah, dan mogok ngobrol dengan ayahku dua hari penuh. Walaupun sebenarnya untuk mengobati kekecewaan kami, sehari setelahnya kami sudah diajak ibu main ke kolam renang umum yang ada di kompleks perumahan sebelah kami. Tapi perlakuan kami pada ayah tetap tak berubah. Jutek saja.
Ayahku lalu membelikan kami es krim mencoba untuk meredakan amarah kami. Namun es krim yang ia sodorkan kami tepis dengan tangan dan akhirnya terjatuh ke lantai. What a spoiled babies... Aku selalu ingat ekspresi air muka ayahku dengan sorot matanya yang layu.
Malamnya, aku tak bisa tidur. Merasa tak enak hati ingin meminta maaf kepada Ayahku, tapi aku gengsi. Akhirnya aku putuskan untuk menulis surat untuk ayahku. Isinya seperti ini…
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Ayah
Apa kabar, Ayah? Ranti baik-baik saja. Kemarin aku dan ade maen ke kolam renang sama ibu. Asik banget loh, yah.. sayang ayah ga bisa ikut.
Ayah pasti capek yah rapat melulu. Ranti suka kasian liat ayah kecapean abis pulang rapat. Ayah jangan lupa makan yang banyak yah, Yah… supaya Ayah bisa main-main lagi sama kita nanti.
Ayah, sebenernya aku marah loh dua hari kemarin. Abis ayah jahat. Masa dibatalin sih jalan-jalannya. Padahal Ranti sama Ade kan girang banget akhirnya bisa main-main sama ayah dan ibu.
Kemarin, ibu bilang kalo ayah sibuk nyari uang untuk beliin barbie, baju baru, buku cerita, komik chibi maruko-chan, dan mainan masak-masakkan untuk Ranti. Jadi gak bisa jalan-jalan sama kita. Ayah, sebenernya Ranti cuma kangen sama Ayah yang udah jarang banget main sama kita. Ayah ga usah repot-repot nyenengin Ranti ngasih mainan buat Ranti. Ranti cuma pingin Ayah.
Maafin Ranti yah, Yah… kemarin udah ngebuat es krim dari ayah jatuh ke lantai. Padahal sebenernya Ranti ga marah lagi sama ayah.
Ayah,
Ayah itu ayah yang paling hebat sedunia.
Ayah jangan sedih lagi yah…
Ranti sayang sama ayah.
(Ranti)
NB: Ayah, jangan lupa beliin boneka Winnie the pooh yang ayah janjiin hari minggu kemarin yah!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kertaspun kulipat dan kutaruh di atas meja makan tempat ayah biasanya pagi-pagi sebelum berangkat membaca koran dan sarapan. Setelah itu aku merasa lega dan bisa tidur dengan pulas. Sehari setelahnya boneka Winnie the pooh tiba-tiba sudah kupeluk ketika bangun dari tidur. Walaupun besok-besoknya ayah tetap pulang malam. Dan kami hanya bertemu di akhir pekan, namun suasananya tiba-tiba sudah mencair.
Tapi baru-baru ini, aku menemukan surat yang kutulis untuk ayah masih tersimpan rapi di laci meja beliau. Dan akhirnya ibu bercerita padaku. Pada malam aku letakkan surat di meja makan, Pagi-pagi setelah bangun dari tidur, ayah membacanya. Ibuku menengok dari balik pintu kamar, dan mendapati ayahku menangis membaca surat dariku. Sejak saat itu surat yang kutulis terlipat rapih di agendanya dan selalu beliau bawa kemanapun beliau pergi.
Sepakat denganku kan. Ayahku adalah ayah yang paling manis sedunia kan?
Malam ini, Ibu, Aku dan Tantri sholat isya berjamaah. Setelah sholat, ibuku memimpin doa. Memanjat doa untuk Ayah yang telah tiada. Agar Ayah selalu bahagia di alam sana.
Kami tidak menangis tapi bukan berarti tidak sedih. Kami hanya mencoba memahami bahwa Ayahku pasti amat bahagia, karena Ayah telah menemui Tuhan yang Ayah amat beliau cintai dan beliau rindukan.
Yah, benar. Ayahku, Ayah Tantri dan Suami ibuku telah meninggalkan kami. Insya Allah, khusnulkhotimah. Beliau pergi ketika tengah menunaikan sholat, dengan posisi sujud. Posisi dimana manusia sangat dekat dengan Tuhan. Menandakan betapa Tuhan amat baik pada Ayahku, dan betapa Ayahku luar biasa beruntung Tuhan meridhoi kepergiannya dari dunia, dan kedatangannya menghadapNya. Insya Allah.
Kami teringat wajah terakhir ayahku sebelum kami berpisah. Wajahnya cerah bersinar, terdapat senyum tersemat disana, dan air mukanya pun amat teduh. Tiada peluh, tiada sendu, tiada kalut dan tiada kecemasan. Wajahnya amat tampan cemerlang, bahkan diantara kami yang mengitarinya, yang masih diberi hidup oleh Tuhan.
Tuhan, sediakanlah istana paling indah yang ada di Surga untuk Ayah kami tercinta. Tempatkan beliau di tempat yang paling dekat dengan Engkau. Karena kami tahu, Ayah kami selalu merindukkanMu seumur hidupnya. Perkenankanlah beliau bila tiba saatnya kelak bertemu denganMu, dan mendengar salamMu, Ya Rabb. Karena hanya itu yang Ayah kami selalu harapkan setiap malam. Cintai Ayah kami, Ya Rabb. Karena Ayah kami pun amat mencintai Engkau. Bahkan setiap helai nafasnya adalah dzikirnya kepada Engkau. Ridloi ia untuk menjadi kekasihmu, Ya Rabb. Walau ia tak sesempurna Rasulullah, tapi beliau manusia yang selalu memimpikan cintaMu, Ya Rabb.
Teruntuk Ayah... Aku berdoa kepada Tuhan, Agar Tuhan mempertemukan kita kembali di surga kelak, dan berkenan meridloi untuk menjadikan kita satu keluarga lagi.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tapi baru-baru ini, aku menemukan surat yang kutulis untuk ayah masih tersimpan rapi di laci meja beliau. Dan akhirnya ibu bercerita padaku. Pada malam aku letakkan surat di meja makan, Pagi-pagi setelah bangun dari tidur, ayah membacanya. Ibuku menengok dari balik pintu kamar, dan mendapati ayahku menangis membaca surat dariku. Sejak saat itu surat yang kutulis terlipat rapih di agendanya dan selalu beliau bawa kemanapun beliau pergi.
Sepakat denganku kan. Ayahku adalah ayah yang paling manis sedunia kan?
***
Malam ini, Ibu, Aku dan Tantri sholat isya berjamaah. Setelah sholat, ibuku memimpin doa. Memanjat doa untuk Ayah yang telah tiada. Agar Ayah selalu bahagia di alam sana.
Kami tidak menangis tapi bukan berarti tidak sedih. Kami hanya mencoba memahami bahwa Ayahku pasti amat bahagia, karena Ayah telah menemui Tuhan yang Ayah amat beliau cintai dan beliau rindukan.
Yah, benar. Ayahku, Ayah Tantri dan Suami ibuku telah meninggalkan kami. Insya Allah, khusnulkhotimah. Beliau pergi ketika tengah menunaikan sholat, dengan posisi sujud. Posisi dimana manusia sangat dekat dengan Tuhan. Menandakan betapa Tuhan amat baik pada Ayahku, dan betapa Ayahku luar biasa beruntung Tuhan meridhoi kepergiannya dari dunia, dan kedatangannya menghadapNya. Insya Allah.
Kami teringat wajah terakhir ayahku sebelum kami berpisah. Wajahnya cerah bersinar, terdapat senyum tersemat disana, dan air mukanya pun amat teduh. Tiada peluh, tiada sendu, tiada kalut dan tiada kecemasan. Wajahnya amat tampan cemerlang, bahkan diantara kami yang mengitarinya, yang masih diberi hidup oleh Tuhan.
Tuhan, sediakanlah istana paling indah yang ada di Surga untuk Ayah kami tercinta. Tempatkan beliau di tempat yang paling dekat dengan Engkau. Karena kami tahu, Ayah kami selalu merindukkanMu seumur hidupnya. Perkenankanlah beliau bila tiba saatnya kelak bertemu denganMu, dan mendengar salamMu, Ya Rabb. Karena hanya itu yang Ayah kami selalu harapkan setiap malam. Cintai Ayah kami, Ya Rabb. Karena Ayah kami pun amat mencintai Engkau. Bahkan setiap helai nafasnya adalah dzikirnya kepada Engkau. Ridloi ia untuk menjadi kekasihmu, Ya Rabb. Walau ia tak sesempurna Rasulullah, tapi beliau manusia yang selalu memimpikan cintaMu, Ya Rabb.
Teruntuk Ayah... Aku berdoa kepada Tuhan, Agar Tuhan mempertemukan kita kembali di surga kelak, dan berkenan meridloi untuk menjadikan kita satu keluarga lagi.
Ayah,
Ayah itu ayah yang paling hebat sedunia.
Ayah jangan sedih lagi yah…
Ranti sayang sama ayah.
(Ranti)
NB: Ayah, jangan lupa beliin boneka Winnie the pooh yang ayah janjiin hari minggu kemarin yah!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-the end-
Jumat, 26 Februari 2010
Proposal Daisakusen : belajar untuk menerima keadaan
Masih teringat di kepala saya, ketika pertama kali saya menonton sebuah serial asal jepang ini. waktu itu kalender di rumah menunjukkan angka 10 Januari 2008. saya menghabiskan dua hari penuh untuk menyelesaikannya.
awalnya saya pikir saya akan menonton kisah percintaan klasik selayaknya yang sering saya tonton dari kebanyakan film. Kalau bukan cinta segi tiga, ya cinta segi empat, dengan latar belakang masa sekolah atau kuliah. seperti itulaa... dari dulu hingga sekarang tak banyak yang berubah. karena memang pangsa pasarnya anak remaja usia SMA.
namun setelah saya telisik, kisah cinta segi tiga ini dibalut dengan nuansa yang berbeda dari pikiran saya sebelumnya. Dengan mengambil tema "kembali ke masa lampau", kisah ini lumayan menggigit juga. Apalagi dengan akhir cerita yang tidak bisa ditebak dan terkesan menggantung, namun cukup membuat penontonnya puas dan terbayang-bayang hingga ke dunia nyata.
Cerita dimulai dari kisah persahabatan antara dua insan manusia sejak mereka duduk di bangku SD, yang lelaki bernama Ken dan yang perempuan bernama Rei. Rei adalah murid pindahan di SD tersebut. Persahabatan mereka berlanjut hingga mereka memasuki masa SMP. Di masa itu, mulai timbul percikan-percikan cinta diantara mereka, namun yaa... namanya juga sahabat, mereka belum mengakui karena memang belum menyadari perasaan yang mereka punya untuk sahabatnya tersebut.
semua itu terus berlanjut hingga akhirnya Rei memutuskan untuk menikah. Tentu dengan pria lain. Barulah penyesalan itu muncul di benak Ken. Nah... treeenggg... tiba-tiba ada seorang peri yang berbaik hati menawarkan kepada Ken untuk kembali ke masa lampau. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk memperbaiki masa lalu atau lebih tepatnya "mengulang" masa lalu dan mengubah masa depan. Namun, seperti yang digambarkan di serial tersebut, apapun usaha yang Ken lakukan, hasilnya tetap nihil.
Keadaan tak berubah, Rei tetap menikah dengan pria itu.
Ada satu pertanyaan mengganjal yang hadir di hati saya mengenai ending serial ini. Bo... ko akhirnya begono..?? Namun setelah dipikir-pikir, karena memang yang menjadi fokus cerita ini bukanlah kisah percintaan tragis dua orang sahabat yang saling gengsian, melainkan pelajarannya atau maksud inti sari dari kisah ini sendiri yang terkadang luput dari perhatian penontonnya (termasuk saya). Apa coba..??
Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada satu kutipan perkataan sang peri yang sungguh menggugah hati dan sungguh pas sekali mendeskripsikan inti sari dari kisah proposal daisakusen...
"Menatap masa depan walaupun perih, masih jauh lebih baik dari menangisi keadaan susah di masa lalu"
Hikmah lain yang dapat dipetik dari serial ini adalah :
1. Jangan pernah menghindari hal-hal yang sulit, yang siapa tahu, bisa membawa kita menuju ke kesuksesan
2. Jangan pernah menangisi kemalangan yang terjadi , seakan-akan kita orang paling malang di dunia, karena akan selalu ada pelajaran di balik kemalangan, kalau kita mau menelisik lebih jauh... dan.... akan ada kejutan yang menanti di akhir kemalangan. percaya aja kalau setiap kejadian yang terjadi di hidup manusia pasti ada ujungnya.
"Tiada kekaguman dari orang yang kehilangan keanggunannya" -Abraham Lincoln
3. Ingat ketika berusaha, jangan pernah menyesal, karena walau hasilnya "null" sekalipun, namun setidaknya tidak ada yang perlu disesali kemudian
"berusahalah karena kau tidak akan rugi apapun" -peri
4. Nah, yang terakhir jangan lupa akan faktor X alias doa. terkadang kita lupa akan hal-hal yang mungkin untuk sebagian orang remeh, namun siapa sih yang menentukan hasil dari kerja keras kita kalau bukan Tuhan...?
Dari skala satu ampe lima, serial ini saya kasih lima bintang. Ide yang sarat akan makna, plot cerita yang mengalir dengan sungguh nyaman, hentakan-hentakan kejutan yang tiada henti tiap episodenya, tema cerita yang tidak umum, pemeran yang memerankan dengan amat dalam dan bagus (seolah-olah menempel dengan tubuh pemerannya), serta klimaks yang mempesona; membuat saya sungguh jatuh cinta terhadap serial ini.
Kembali lagi pada akhir kisah Proposal Daisakusen...
Ada kejutan yang diselipkan di sepuluh menit terakhir di episode paling bontot. Ternyata kenyataan didepan mata tak seburuk yang dikira. what a surprise.. Apa itu..?? silahkan tonton saja sendiri...
awalnya saya pikir saya akan menonton kisah percintaan klasik selayaknya yang sering saya tonton dari kebanyakan film. Kalau bukan cinta segi tiga, ya cinta segi empat, dengan latar belakang masa sekolah atau kuliah. seperti itulaa... dari dulu hingga sekarang tak banyak yang berubah. karena memang pangsa pasarnya anak remaja usia SMA.
namun setelah saya telisik, kisah cinta segi tiga ini dibalut dengan nuansa yang berbeda dari pikiran saya sebelumnya. Dengan mengambil tema "kembali ke masa lampau", kisah ini lumayan menggigit juga. Apalagi dengan akhir cerita yang tidak bisa ditebak dan terkesan menggantung, namun cukup membuat penontonnya puas dan terbayang-bayang hingga ke dunia nyata.
Cerita dimulai dari kisah persahabatan antara dua insan manusia sejak mereka duduk di bangku SD, yang lelaki bernama Ken dan yang perempuan bernama Rei. Rei adalah murid pindahan di SD tersebut. Persahabatan mereka berlanjut hingga mereka memasuki masa SMP. Di masa itu, mulai timbul percikan-percikan cinta diantara mereka, namun yaa... namanya juga sahabat, mereka belum mengakui karena memang belum menyadari perasaan yang mereka punya untuk sahabatnya tersebut.
semua itu terus berlanjut hingga akhirnya Rei memutuskan untuk menikah. Tentu dengan pria lain. Barulah penyesalan itu muncul di benak Ken. Nah... treeenggg... tiba-tiba ada seorang peri yang berbaik hati menawarkan kepada Ken untuk kembali ke masa lampau. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk memperbaiki masa lalu atau lebih tepatnya "mengulang" masa lalu dan mengubah masa depan. Namun, seperti yang digambarkan di serial tersebut, apapun usaha yang Ken lakukan, hasilnya tetap nihil.
Keadaan tak berubah, Rei tetap menikah dengan pria itu.
Ada satu pertanyaan mengganjal yang hadir di hati saya mengenai ending serial ini. Bo... ko akhirnya begono..?? Namun setelah dipikir-pikir, karena memang yang menjadi fokus cerita ini bukanlah kisah percintaan tragis dua orang sahabat yang saling gengsian, melainkan pelajarannya atau maksud inti sari dari kisah ini sendiri yang terkadang luput dari perhatian penontonnya (termasuk saya). Apa coba..??
Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada satu kutipan perkataan sang peri yang sungguh menggugah hati dan sungguh pas sekali mendeskripsikan inti sari dari kisah proposal daisakusen...
"Menatap masa depan walaupun perih, masih jauh lebih baik dari menangisi keadaan susah di masa lalu"
Hikmah lain yang dapat dipetik dari serial ini adalah :
1. Jangan pernah menghindari hal-hal yang sulit, yang siapa tahu, bisa membawa kita menuju ke kesuksesan
2. Jangan pernah menangisi kemalangan yang terjadi , seakan-akan kita orang paling malang di dunia, karena akan selalu ada pelajaran di balik kemalangan, kalau kita mau menelisik lebih jauh... dan.... akan ada kejutan yang menanti di akhir kemalangan. percaya aja kalau setiap kejadian yang terjadi di hidup manusia pasti ada ujungnya.
"Tiada kekaguman dari orang yang kehilangan keanggunannya" -Abraham Lincoln
3. Ingat ketika berusaha, jangan pernah menyesal, karena walau hasilnya "null" sekalipun, namun setidaknya tidak ada yang perlu disesali kemudian
"berusahalah karena kau tidak akan rugi apapun" -peri
4. Nah, yang terakhir jangan lupa akan faktor X alias doa. terkadang kita lupa akan hal-hal yang mungkin untuk sebagian orang remeh, namun siapa sih yang menentukan hasil dari kerja keras kita kalau bukan Tuhan...?
Dari skala satu ampe lima, serial ini saya kasih lima bintang. Ide yang sarat akan makna, plot cerita yang mengalir dengan sungguh nyaman, hentakan-hentakan kejutan yang tiada henti tiap episodenya, tema cerita yang tidak umum, pemeran yang memerankan dengan amat dalam dan bagus (seolah-olah menempel dengan tubuh pemerannya), serta klimaks yang mempesona; membuat saya sungguh jatuh cinta terhadap serial ini.
Kembali lagi pada akhir kisah Proposal Daisakusen...
Ada kejutan yang diselipkan di sepuluh menit terakhir di episode paling bontot. Ternyata kenyataan didepan mata tak seburuk yang dikira. what a surprise.. Apa itu..?? silahkan tonton saja sendiri...
Kalap di festival buku murah Landmark 19-23 Februari 2010
Pada tanggal 20 Februari 2009, saya dan seorang teman yang bernama Kaka memutuskan untuk pergi ke Bandung (dari Jatinangor, jeng..) untuk menghadiri gelaran bursa buku murah di Landmark. Berhubung akhir minggu dan *ceritanya* kami sedang boke-bokenya kami berjanji : hanya melihat-lihat, tidak membeli barang satu buku pun.
Namun apa yang terjadi setelahnya bisa ditebak, kami akhirnya menyerah bahkan bisa dibilang hilang akal.
*namanya juga wanita....
Tanpa memedulikan dompet yang sudah sibuk teriak-teriak memperingatkan isinya yang cekak, saya mengambil beberapa lembar uang berwarna dominan biru dan menghabiskannya untuk membeli 5 buku. Tapi saya tidak menyesal. Toh, saya sudah lama tidak membeli buku, gumam saya dalam hati. Balas dendam. Lagipula, buku itu kan makanan jiwa. Jiwa pun butuh makanan seperti layaknya tubuh kita. Tambah saya lagi.
*walaupun pada akhirnya saya harus mengurut dada memendam keinginan untuk membeli barang kebutuhan minggu depannya. hahahahah..*
Buku yang saya beli berupa satu buah novel, satu buah kumpulan foto fashion, dan tiga buah buku bebas. Dari kelima buku tersebut yang menarik hati saya adalah sebuah novel karangan Ha Jin yang berjudul Waiting : Sebuah Penantian. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca novel ini terlebih dahulu. Untuk ukuran buku seharga empat porsi bakso (karena saya suka bakso, jadi perumpamaan di kemudian haripun dengan bakso saja yah... hahahahahhh), buku ini sangat memuaskan.
Bagaimana tidak..?
Karya seorang maestro sastrawan asal Cina yang berdomisili di Inggris ini bukanlah bacaan kacangan. Kontennya, alur cerita, gaya bahasa, dan sudut pandang cerita yang tidak biasa, membuat saya terlena dengan kisah yang dibawa oleh Ha Jin.
*Mau tau gimana ceritanya..? baca saja di review buku ini di postinganku yang terbaru*
Lanjut lagi dengan petualangan kami di bursa buku itu...
Kaka berhasil mendapatkan buku incerannya dengan harga relatif miring pula. buku tersebut bertajuk Api Sejarah yang ditulis oleh seorang profesor yang sering mengisi ceramah di masjid Salman untuk kalangan ITB. Berkisah tentang peranan umat muslim *yang ternyata amat besar* dalam sejarah bangsa kita, Indonesia.
hohohoo...
Setelah puas menggondol buku belanjaan, kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
Tapi tiba-tiba Kaka berbisik sesuatu...
"Teu... duit buat parkiran ludes siah..."
Namun apa yang terjadi setelahnya bisa ditebak, kami akhirnya menyerah bahkan bisa dibilang hilang akal.
*namanya juga wanita....
Tanpa memedulikan dompet yang sudah sibuk teriak-teriak memperingatkan isinya yang cekak, saya mengambil beberapa lembar uang berwarna dominan biru dan menghabiskannya untuk membeli 5 buku. Tapi saya tidak menyesal. Toh, saya sudah lama tidak membeli buku, gumam saya dalam hati. Balas dendam. Lagipula, buku itu kan makanan jiwa. Jiwa pun butuh makanan seperti layaknya tubuh kita. Tambah saya lagi.
*walaupun pada akhirnya saya harus mengurut dada memendam keinginan untuk membeli barang kebutuhan minggu depannya. hahahahah..*
Buku yang saya beli berupa satu buah novel, satu buah kumpulan foto fashion, dan tiga buah buku bebas. Dari kelima buku tersebut yang menarik hati saya adalah sebuah novel karangan Ha Jin yang berjudul Waiting : Sebuah Penantian. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca novel ini terlebih dahulu. Untuk ukuran buku seharga empat porsi bakso (karena saya suka bakso, jadi perumpamaan di kemudian haripun dengan bakso saja yah... hahahahahhh), buku ini sangat memuaskan.
Bagaimana tidak..?
Karya seorang maestro sastrawan asal Cina yang berdomisili di Inggris ini bukanlah bacaan kacangan. Kontennya, alur cerita, gaya bahasa, dan sudut pandang cerita yang tidak biasa, membuat saya terlena dengan kisah yang dibawa oleh Ha Jin.
*Mau tau gimana ceritanya..? baca saja di review buku ini di postinganku yang terbaru*
Lanjut lagi dengan petualangan kami di bursa buku itu...
Kaka berhasil mendapatkan buku incerannya dengan harga relatif miring pula. buku tersebut bertajuk Api Sejarah yang ditulis oleh seorang profesor yang sering mengisi ceramah di masjid Salman untuk kalangan ITB. Berkisah tentang peranan umat muslim *yang ternyata amat besar* dalam sejarah bangsa kita, Indonesia.
hohohoo...
Setelah puas menggondol buku belanjaan, kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
Tapi tiba-tiba Kaka berbisik sesuatu...
"Teu... duit buat parkiran ludes siah..."
Kepada Seorang Jingga
Namaku Salsabila Ar-rayan. Artinya Sungai yang mengalir di surganya orang-orang yang berpuasa. Kata Ayahku, alasan aku diberi nama demikian bagus adalah agar aku dapat menjadi seseorang yang menyejukkan layaknya air sungai yang Allah sediakan di surga untuk memuaskan dahaga orang yang berpuasa.
Temanku pun pernah memberi testimoninya untukku, mereka berkata aku layaknya ibu bagi mereka, dewasa dan mengayomi. Kalau memang nama adalah doa yang orang tua kirimkan untuk sang anak. Berarti mungkin doa ayah ibuku dikabulkan oleh Tuhan.
Aku pernah bertemu dengan seorang cenayang asal inggris di pesawat, dia berkata aku berjiwa tua (have an old soul…). Padahal ketika itu aku berusia 15 tahun.
Well, mereka tak salah. Aku memang berjiwa tua. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa aku tak canggung ketika berbicara atau mengobrol dengan orang yang sepantar dengan orang tuaku.
Sekarang aku berusia 28 tahun. Aku bekerja menjadi dokter di RS Hasan Sadikin Bandung. Sifatku itulah mengantarkan aku mengenal pria yang dulu pernah menjadi pasienku. Ia bernama Prihanggono Akbar Sasongko.
***
“Maukah kamu menjadi istriku??”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh Mas Pri, kemarin. Panggilanku untuk Prihanggono Akbar Sasongko. Pria yang dahulu pernah berobat padaku ini adalah seorang Eksekutif muda yang berdomisili di Jakarta. Kehidupan keras Jakarta tak membuatnya berubah menjadi orang yang skeptis dan materialistis. Kebalikkannya. Ia adalah pria Sholih, tak hanya rajin ibadah dan pintar mengaji, tak jarang ia puasa Senin-Kamis. Tak seperti kebanyakan pria, Ia pun sangat matang di usianya yang menginjak 32 tahun. Mungkin ini yang mengakibatkan aku nyaman dengannya. Wajah tampannya tak membuatnya menjadi seorang player, bahkan percaya tak percaya, pandangannya selalu terjaga. Ketika menatapku saat mengobrol pun, ia seperti menatap tembok yang ada di belakangku. Latar Belakangnya pun baik, berasal dari ayah tentara dan ibu rumah tangga. Menjadikan ia disiplin, tegas, tangguh sekaligus lembut dan romantis.
He’s just everything that you want from a guy…
Jika ada pepatah berkata tak ada gading yang tak retak. Mungkin Tuhan memberi pengecualian kepada Mas Pri.
Padahal kami baru bertemu sejak dua bulan lalu. Tapi dari suara lantangnya ketika melamarku tak sedikitpun tersirat keraguan.
Tapi…
Sayangnya aku tak punya rasa untuknya. Padahal ia tak kurang sesuatu apapun. Mungkin aku buta. Entahlah…
Aku bercerita pada ibuku, sosok labuhan curahan hatiku bertepi. Ibu berkata…
“Nduk, ada pria baik-baik dan sholih yang ingin memilikimu dengan cara yang baik agar kau halal untuknya. Itu menunjukkan ia sungguh menghormatimu sebagai perempuan. Apakah itu semua tidak cukup untukmu, anakku? seolah Tuhan mengirim ia untuk menjadi muhrimmu..”
Aku tak menjawab. Aku hanya diam dengan kepala terantuk di atas pangkuan ibuku.
Aku melamun. Lamunanku tertuju pada seseorang yang dahulu pernah bertahta di hatiku. Jingga Sukma Prakoso. Jingga adalah kekasihku sejak kami bersekolah di bangku SMA kelas satu. Tak seperti namanya, Jingga adalah seseorang yang rapuh, sensitive, melankolis, dan penyendiri. Namun hatinya bersih kalau tak bisa dibilang lugu atau culun. Ia tak lagi berayah sejak SMP, tak aneh dalam dirinya tak ditemukan sisi maskulin dalam jumlah besar. Ia tak seperti anak laki-laki lain yang gemar bermain basket, sibuk membentuk band, atau nongkrong di kafe. Ia banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama computer yang setia menemani. Ia pun tak seperti kebanyakan orang yang luwes bergaul, ia terdengar kaku saat berinteraksi lewat kata-kata, bahkan ketika bercengkrama.
Aku sungguh menyukainya kala itu.
Temanku pernah bertanya apa yang aku suka dari pria yang berpenampilan ‘nerd’ seperti jingga?
Aku hanya tersenyum dan menjawab…
“ aku menyukai semua tentangnya…”
Aku rindu cara ia memperlakukan aku. Sungguh canggung hingga membuat aku tak kuat menahan kulum senyum di tepi bibir. Aku rindu ketika ia menatapku, seolah-olah tak ada lagi benda di dunia yang ia bisa lihat, hanya ada aku. Aku rindu mendengar suaranya yang renyah dan bersemangat ketika ia bercerita tentang hobi IT-nya. Aku rindu melihat jaket merah yang selalu ia kenakan ketika kami pergi untuk jalan-jalan plesir di mall. Aku rindu melihat ia makan dengan lahap lunch box yang aku siapkan untuknya.
Aku rindu Jingga.
…
Kami dipisahkan oleh waktu.
Ketika hubungan kami menginjak tahun ke-5, ia memintaku untuk menunggunya yang akan melanjutkan kuliah ke Jepang. Aku lalu terdiam, aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak ingin jauh darinya, tapi ini demi cita yang telah lama ia dambakan. Aku tak kuasa menahannya.
Ia berkata ia akan kembali dua tahun lagi. Ia pun berkata, ia menitipkan hatinya padaku.
Setahun berikutnya sungguh terasa berat, ia tak pernah menghubungiku. Padahal setiap jam aku tanyakan kabarnya melalui email. Tak pernah ada balasan.
Aku berdoa kepada Tuhan, sang Pelipur Lara, agar Tuhan berkenan mendekatkan kami jika kami berjodoh, dan menjauhkan kami jika kami tak berjodoh. Jika kelak aku dan Jingga bertemu, itu adalah tanda dari Tuhan yang menetapkan kami untuk bersama.
2 tahun berlalu
7 tahun berlalu
He never come back…
Air mata. Kumpulannya menari-nari. Membasahi pipi.
Dua hari lagi, aku menikah dengan Mas Pri. Setelah seminggu, akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamarannya. Semoga kami mendapat berkah. Prosesnya memang cukup lama. Aku meminta petunjuk dari Tuhan. Tuhan lalu menjawabnya lima hari kemudian melalui buku yang tengah kubaca. Buku mengenai pengalaman sepasang pengantin yang mengikat hati di usia yang amat hijau. Dalam buku itu, Sang pengantin wanita berkata…
“ aku ingin pernikahan kita bukan berdasarkan atas cinta belaka.. aku ingin, pernikahan kita menjadi bukti tanda kebesaran Tuhan…”
Perkataan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. This is a sign… I have to receive it…
Jam 8 malam. Aku diberi tahu ada pasien gawat darurat dengan penyakit Myasthenia gravis, sebuah penyakit yang membuat penderitanya kehilangan kontak antara system syaraf pusat dengan organ-organ tubuh, tengah mengalami kesulitan bernafas. Aku diminta untuk melakukan penanganan darurat bantuan hidup. Ketika itu perawat menyodorkan rekam medis dengan nama…
Jingga Sukma Prakoso
Seketika tubuhku luluh lantak dan terhuyung hingga tembok. Buncahan air mata sudah ada di tepian kelopak mata.
Aku tak bisa menangis. Sekarang posisiku bukanlah kekasihnya yang merindukannya dan sekarang mendapati ia tak berdaya di ujung maut. Detik ini, aku seorang dokter yang tak diperbolehkan menunjukkan emosinya kepada pasiennya.
Dengan langkah tegap, kususuri lantai mengikuti barisan perawat yang berlari sambil berteriak memanggilku. Sampailah aku didepan tirai, dan segera kusingkap.
Jingga koma.
Dengan sigap, aku berikan resusitasi jantung dan bantuan nafas. Aku melakukannya dengan tenang dan gesit. Sungguh diluar dugaan, mengingat sebenarnya hatiku hancur berpuing-puing. Di sampingku ada wanita paruh baya yang menangis sejadinya, bisa ditebak, Ia ibu Jingga.
Akhirnya Jingga kembali. Detak jantung dan nafasnya mulai normal. Sesaat setelahnya aku sudah keluar ruangan dan berlari menuju toilet.
Tempat aku bisa menumpahkan semua puing yang berserakkan dan air mata yang telah tak sabar ingin segera membanjiri pipi. Tempat aku bisa menjadi kekasih jingga lagi.
Aku menelepon Mas Pri dan menceritakan semuanya. Ia datang dan hanya menyaksikan aku menangis sejadi-jadinya. Ini pertama kalinya Mas Pri melihatku begini lusuh dan lemah. Aku tak peduli.
Ia hanya diam.
Pikiranku melayang pada Jingga. Kepada janjinya yang akan kembali setelah 2 tahun ia pergi. Kepada hatinya yang ia titipkan kepadaku. Kepada semua kenangan yang ia torehkan di hatiku. Lalu sekarang Jingga kembali dengan keadaan yang berbeda. tak sesempurna dulu, tak sesehat dulu dan jauh lebih rapuh dibandingkan dulu. Lebih dari itu semua, ia membutuhkan aku melebihi diriku yang membutuhkan ia.
Selama ini aku mengira, ia yang meninggalkan aku dan berkhianat atas semua yang pernah kita rasakan. Lalu sekarang, apakah aku yang meninggalkannya? Dan apakah aku yang berkhianat atas semua yang pernah aku dan Jingga rasakan?? Apakah mungkin ia selama ini hanya menahan diri untuk membagi hidupnya bersamaku agar aku tak turut larut dalam kisah malangnya?
Jingga maafkan aku yang tak sabar menunggumu.
Setelah reda sedu sedan-ku, Mas Pri lalu membuka bibirnya.
Mas Pri berkata dengan pelan dan lembut. Lagi-lagi tanpa keraguan.
“ Aku rela, sabil. Aku rela melepasmu… Ia membutuhkan kamu.”
Aku mengucapkan salam pada ibunya. Ia mencoba tersenyum dan berucap terima kasih atas tindakan heroikku menyelamatkan anaknya (yang kulakukan karena aku mencintainya).
Aku hanya tersenyum, dan memberitahunya bahwa aku adalah seseorang yang dahulu pernah menjalin kasih dengan puteranya.
Ia tidak kaget. Katanya, ia sudah mengetahuinya sejak kedatanganku kemarin dari bet nama jas dokterku . Aku terkejut setengah tak percaya.
Ia berkata, Jingga sering bercerita tentang aku kepadanya. Bercerita tentang, perempuan yang selama ini menemaninya berbagi kisah, mendengarkan semua keluh kesahnya, perempuan yang selama ini selalu menyayangi puteranya. Perempuan yang ia cintai dengan seluruh jiwanya.
Ia pun bercerita bagaimana Jingga meninggalkan aku karena sebulan sebelumnya ia telah divonis menderita penyakit Myasthenia Gravis karena tak mau aku lelah menemaninya dalam kesedihannya. Tentang kepedihan Jingga setiap harinya melawan penyakitnya seorang diri sekaligus melawan perasaan bersalahnya meninggalkan aku. Tentang setiap serangan penyakitnya yang membuat ia tak dapat melanjutkan cita-citanya bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri.
Ibu Jingga kadang terdiam sesaat untuk menahan tangis. Ia mencoba tegar untukku yang sedari tadi sudah terisak.
Aku katakan kepada Ibunya.
Aku sungguh merindukan Jingga.
Aku sungguh mencintai Jingga.
Dan aku katakan juga, besok aku akan menikah dengan orang lain.
Setelah semuanya, mungkin banyak yang mengira aku meninggalkan Mas Pri untuk Jingga.
Aku hanya menggeleng. Setelah semua yang Tuhan tunjukkan kepadaku. Aku tahu, Mas Pri-lah sosok yang Tuhan kehendaki untuk kutemani hingga akhir hayat. Walau Aku sungguh mencintai Jingga dan hingga sesaat sebelum aku bertemu dengan Jingga, segenap rindukupun hanya bisa kutitipkan pada angin yang berhembus.
Tapi, keputusanku adalah Tangan Tuhan, Campur Tangan Tuhan atas hidupku. Tak ada yang bisa merubahnya, dan tak ada yang bisa aku lakukan. Walau aku tak mengerti mengapa Tuhan mempertemukan aku dengan Jingga. Aku harus menerima kehendak Tuhan atas aku, JIngga, dan Mas Pri.
“Mas, Tuhan mengirimmu untuk menjadi imamku. 2 hari lagi kita sudah akan menikah. Tidak ada yang akan berubah. Kau hanya cukup tahu itu. Aku akan baik-baik saja”
Jawabku ketika ia bilang ia rela melepaskanku untuk Jingga.
Mas Pri hanya diam dan mengangguk. Ia tahu karakter keras kepalaku. Tapi aku yakin, ia tahu aku tak main-main dalam mengambil keputusan.
Kami menikah dalam suasana yang amat sederhana. Seolah Tuhan tahu aku tengah berduka, Ia lalu men-setting semuanya dengan kondisi yang tak berlebihan. Tak ada gempita pesta resepsi, tak ada gaun mewah, tak ada riuh suara gerombolan tamu. Semuanya hanya hening. Setidaknya bagiku.
Mas Pri pun tak banyak bicara. Ia hanya sesekali menengok ke arahku. Memastikan aku baik-baik saja.
Setelah pernikahan kami digelar. Mas Pri mengajakku berkunjung ke Rumah Sakit menemui Jingga. Sekali lagi, aku hanya diam tak kuasa untuk menyetujuinya bahkan untuk menolaknya. Ia memelukku erat sekali untuk pertama kalinya, dan meninggalkan aku dalam kegeminan getir dalam dadanya. Ia mengelus kepalaku untuk menenangkan aku.
Dengan masih menggenakan gaun pengantinku yang berwarna putih dan berpotongan sederhana serta baju beskap jawa yang Mas Pri kenakan, kami bergegas menuju Jingga. Tak peduli dengan banyaknya pasang mata yang melirik kearah kami, keheranan.
Sesampainya kami di kamar Jingga. Mas Pri menyalami Ibu Jingga. Aku memeluk Ibu Jingga. Lalu kuperkenalkan Mas Pri kepada Ibu. Ibu tersenyum sambil menyapa Mas Pri.
Pandanganku terantuk kepada Jingga yang ternyata sudah sadar dan sudah sejak tadi menyadari kedatanganku. Ia tersenyum. Aku tersenyum. Aku minta izin kepada Mas Pri untuk mendekati Jingga. Ia mengangguk.
Aku langkahkan kakiku menuju Jingga. Aku menangkap sorot mata milik Jingga yang telah lama hilang dari ingatanku. Sorot matanya yang hanya ia tujukan untukku. Ia lalu mencoba membuka mulut untuk berbicara. Ia tanyakan kabarku. Tak sanggup untuk berkata-kata, aku hanya mengangguk. Ia lalu memberiku selamat atas pernikahanku yang ia ketahui dari ibunya. Aku hanya mengangguk sambil mencoba untuk menahan banjir bandang dari kedua mataku.
Jingga berkata, dalam tidur malam-nya selama 2 hari berturut-turut ini, ia katakan ia bermimpi melihat aku dengan balutan gaun putih yang aku kenakan sekarang dan tengah tersenyum bahagia.
Aku hanya mengangguk sambil terisak.
Aku dan Mas Pri sungguh bahagia. Beruntung, Tuhan menganugerahi kami pernikahan yang harmonis lengkap dengan 2 anak yang hadir ke dunia menemani kami. Anak tertua kami berumur 3 tahun, Sukma Ayu Larasati. Sedangkan adiknya masih berada di rahimku dan insya Allah akan segera menyusul lahir ke dunia. Menurut USG, anak keduaku berjenis kelamin lelaki. Mas Pri memberinya nama, Jingga Putera Prihanggono.
Dari nama kedua anakku, Mas Pri abadikan sosok Jingga dalam kehidupan kami. Ia berujar, agar Jingga terus menemani perjalanan kami dan hidup di tengah-tengah keluarga kecilku.
Mas Pri memang pria yang baik.
Jingga sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu. Meninggal karena otot Jantungnya gagal berfungsi sehingga membuatnya mengalami gagal jantung.
Mas Pri pernah bercerita, sesaat setelah pertemuan pertamaku dengan jingga yang membuatnya melihatku untuk pertama kalinya berada dalam keadaan payah, Mas Pri menemui Jingga tanpa sepengetahuanku. Saat itu Jingga tengah terpekur diatas tempat tidurnya sambil menatap langit di balik jendela. Mas Pri lalu menyapanya dan memperkenalkan dirinya, serta menceritakan kejadiaan naas ketika ia koma. Jingga tersenyum ketika mendengar namaku keluar dari mulut Mas Pri. Jingga pun tersenyum kembali ketika mendengar Mas Pri mengatakan bahwa ialah yang akan menggantikan Jingga untuk menjagaku seumur hidupnya.
Lalu, Jingga berkata…
“Aku dulu selalu berdoa kepada Tuhan, agar Tuhan menetapkan ia untuk jadi istriku dan bersamanya akan kuukir kisah percintaan kami yang abadi... namun Tuhan berencana lain… Aku hanya sanggup menemaninya dalam kisaran waktu yang singkat. Amat singkat.
Prihanggono, Izinkanlah aku melihatnya menggenakan gaun pengantin berwarna putih, gaun yang selalu aku bayangkan ia kenakan di hari pernikahan kami. aku hanya ingin melihatnya tersenyum sambil mengenakan gaun itu.
Setelah itu, aku relakan Salsabila untuk menjadi tulang rusukmu…”
Jingga…
Aku berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberi wanita penggantiku atasmu di alam sana. Wanita yang menggantikanku setia mendampingimu, menggantikanku untuk mendengarkan segala cerita-ceritamu, menggantikanku untuk tertawa atas setiap guyonanmu, wanita yang tak pernah lelah menghibur atas setiap laramu… dan wanita yang akan selalu menyayangi dan mencintaimu selamanya.
Jingga…
Terima kasih pernah memberi warna dalam hidupku…
Kau akan terus hadir dalam hatiku …
Dan hati Mas Pri…
Jingga…
Jangan kau khawatirkan aku lagi…
Ada Mas Pri yang senantiasa melindungiku dan membuatku bahagia…
Jingga…
Semoga Tuhan berkenan mendekapmu disampingNya dan membuatmu tak akan pernah merasa kesepian lagi…
Kepada seorang Jingga…
Lalu kutitipkan anganku atasnya kepada angin
Agar turut terbang tinggi dan bebas di pusaran langit…
dan tak pernah kembali untuk sekedar menjejakkan kakinya di atas bumi…
hembusan udara keluar dari rongga mulutku…
“aku merindukanmu…”
Temanku pun pernah memberi testimoninya untukku, mereka berkata aku layaknya ibu bagi mereka, dewasa dan mengayomi. Kalau memang nama adalah doa yang orang tua kirimkan untuk sang anak. Berarti mungkin doa ayah ibuku dikabulkan oleh Tuhan.
Aku pernah bertemu dengan seorang cenayang asal inggris di pesawat, dia berkata aku berjiwa tua (have an old soul…). Padahal ketika itu aku berusia 15 tahun.
Well, mereka tak salah. Aku memang berjiwa tua. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa aku tak canggung ketika berbicara atau mengobrol dengan orang yang sepantar dengan orang tuaku.
Sekarang aku berusia 28 tahun. Aku bekerja menjadi dokter di RS Hasan Sadikin Bandung. Sifatku itulah mengantarkan aku mengenal pria yang dulu pernah menjadi pasienku. Ia bernama Prihanggono Akbar Sasongko.
***
“Maukah kamu menjadi istriku??”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh Mas Pri, kemarin. Panggilanku untuk Prihanggono Akbar Sasongko. Pria yang dahulu pernah berobat padaku ini adalah seorang Eksekutif muda yang berdomisili di Jakarta. Kehidupan keras Jakarta tak membuatnya berubah menjadi orang yang skeptis dan materialistis. Kebalikkannya. Ia adalah pria Sholih, tak hanya rajin ibadah dan pintar mengaji, tak jarang ia puasa Senin-Kamis. Tak seperti kebanyakan pria, Ia pun sangat matang di usianya yang menginjak 32 tahun. Mungkin ini yang mengakibatkan aku nyaman dengannya. Wajah tampannya tak membuatnya menjadi seorang player, bahkan percaya tak percaya, pandangannya selalu terjaga. Ketika menatapku saat mengobrol pun, ia seperti menatap tembok yang ada di belakangku. Latar Belakangnya pun baik, berasal dari ayah tentara dan ibu rumah tangga. Menjadikan ia disiplin, tegas, tangguh sekaligus lembut dan romantis.
He’s just everything that you want from a guy…
Jika ada pepatah berkata tak ada gading yang tak retak. Mungkin Tuhan memberi pengecualian kepada Mas Pri.
Padahal kami baru bertemu sejak dua bulan lalu. Tapi dari suara lantangnya ketika melamarku tak sedikitpun tersirat keraguan.
Tapi…
Sayangnya aku tak punya rasa untuknya. Padahal ia tak kurang sesuatu apapun. Mungkin aku buta. Entahlah…
Aku bercerita pada ibuku, sosok labuhan curahan hatiku bertepi. Ibu berkata…
“Nduk, ada pria baik-baik dan sholih yang ingin memilikimu dengan cara yang baik agar kau halal untuknya. Itu menunjukkan ia sungguh menghormatimu sebagai perempuan. Apakah itu semua tidak cukup untukmu, anakku? seolah Tuhan mengirim ia untuk menjadi muhrimmu..”
Aku tak menjawab. Aku hanya diam dengan kepala terantuk di atas pangkuan ibuku.
***
Aku melamun. Lamunanku tertuju pada seseorang yang dahulu pernah bertahta di hatiku. Jingga Sukma Prakoso. Jingga adalah kekasihku sejak kami bersekolah di bangku SMA kelas satu. Tak seperti namanya, Jingga adalah seseorang yang rapuh, sensitive, melankolis, dan penyendiri. Namun hatinya bersih kalau tak bisa dibilang lugu atau culun. Ia tak lagi berayah sejak SMP, tak aneh dalam dirinya tak ditemukan sisi maskulin dalam jumlah besar. Ia tak seperti anak laki-laki lain yang gemar bermain basket, sibuk membentuk band, atau nongkrong di kafe. Ia banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama computer yang setia menemani. Ia pun tak seperti kebanyakan orang yang luwes bergaul, ia terdengar kaku saat berinteraksi lewat kata-kata, bahkan ketika bercengkrama.
Aku sungguh menyukainya kala itu.
Temanku pernah bertanya apa yang aku suka dari pria yang berpenampilan ‘nerd’ seperti jingga?
Aku hanya tersenyum dan menjawab…
“ aku menyukai semua tentangnya…”
Aku rindu cara ia memperlakukan aku. Sungguh canggung hingga membuat aku tak kuat menahan kulum senyum di tepi bibir. Aku rindu ketika ia menatapku, seolah-olah tak ada lagi benda di dunia yang ia bisa lihat, hanya ada aku. Aku rindu mendengar suaranya yang renyah dan bersemangat ketika ia bercerita tentang hobi IT-nya. Aku rindu melihat jaket merah yang selalu ia kenakan ketika kami pergi untuk jalan-jalan plesir di mall. Aku rindu melihat ia makan dengan lahap lunch box yang aku siapkan untuknya.
Aku rindu Jingga.
…
Kami dipisahkan oleh waktu.
Ketika hubungan kami menginjak tahun ke-5, ia memintaku untuk menunggunya yang akan melanjutkan kuliah ke Jepang. Aku lalu terdiam, aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak ingin jauh darinya, tapi ini demi cita yang telah lama ia dambakan. Aku tak kuasa menahannya.
Ia berkata ia akan kembali dua tahun lagi. Ia pun berkata, ia menitipkan hatinya padaku.
Setahun berikutnya sungguh terasa berat, ia tak pernah menghubungiku. Padahal setiap jam aku tanyakan kabarnya melalui email. Tak pernah ada balasan.
Aku berdoa kepada Tuhan, sang Pelipur Lara, agar Tuhan berkenan mendekatkan kami jika kami berjodoh, dan menjauhkan kami jika kami tak berjodoh. Jika kelak aku dan Jingga bertemu, itu adalah tanda dari Tuhan yang menetapkan kami untuk bersama.
2 tahun berlalu
7 tahun berlalu
He never come back…
Air mata. Kumpulannya menari-nari. Membasahi pipi.
***
Dua hari lagi, aku menikah dengan Mas Pri. Setelah seminggu, akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamarannya. Semoga kami mendapat berkah. Prosesnya memang cukup lama. Aku meminta petunjuk dari Tuhan. Tuhan lalu menjawabnya lima hari kemudian melalui buku yang tengah kubaca. Buku mengenai pengalaman sepasang pengantin yang mengikat hati di usia yang amat hijau. Dalam buku itu, Sang pengantin wanita berkata…
“ aku ingin pernikahan kita bukan berdasarkan atas cinta belaka.. aku ingin, pernikahan kita menjadi bukti tanda kebesaran Tuhan…”
Perkataan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. This is a sign… I have to receive it…
***
Jam 8 malam. Aku diberi tahu ada pasien gawat darurat dengan penyakit Myasthenia gravis, sebuah penyakit yang membuat penderitanya kehilangan kontak antara system syaraf pusat dengan organ-organ tubuh, tengah mengalami kesulitan bernafas. Aku diminta untuk melakukan penanganan darurat bantuan hidup. Ketika itu perawat menyodorkan rekam medis dengan nama…
Jingga Sukma Prakoso
Seketika tubuhku luluh lantak dan terhuyung hingga tembok. Buncahan air mata sudah ada di tepian kelopak mata.
Aku tak bisa menangis. Sekarang posisiku bukanlah kekasihnya yang merindukannya dan sekarang mendapati ia tak berdaya di ujung maut. Detik ini, aku seorang dokter yang tak diperbolehkan menunjukkan emosinya kepada pasiennya.
Dengan langkah tegap, kususuri lantai mengikuti barisan perawat yang berlari sambil berteriak memanggilku. Sampailah aku didepan tirai, dan segera kusingkap.
Jingga koma.
Dengan sigap, aku berikan resusitasi jantung dan bantuan nafas. Aku melakukannya dengan tenang dan gesit. Sungguh diluar dugaan, mengingat sebenarnya hatiku hancur berpuing-puing. Di sampingku ada wanita paruh baya yang menangis sejadinya, bisa ditebak, Ia ibu Jingga.
Akhirnya Jingga kembali. Detak jantung dan nafasnya mulai normal. Sesaat setelahnya aku sudah keluar ruangan dan berlari menuju toilet.
Tempat aku bisa menumpahkan semua puing yang berserakkan dan air mata yang telah tak sabar ingin segera membanjiri pipi. Tempat aku bisa menjadi kekasih jingga lagi.
***
Aku menelepon Mas Pri dan menceritakan semuanya. Ia datang dan hanya menyaksikan aku menangis sejadi-jadinya. Ini pertama kalinya Mas Pri melihatku begini lusuh dan lemah. Aku tak peduli.
Ia hanya diam.
Pikiranku melayang pada Jingga. Kepada janjinya yang akan kembali setelah 2 tahun ia pergi. Kepada hatinya yang ia titipkan kepadaku. Kepada semua kenangan yang ia torehkan di hatiku. Lalu sekarang Jingga kembali dengan keadaan yang berbeda. tak sesempurna dulu, tak sesehat dulu dan jauh lebih rapuh dibandingkan dulu. Lebih dari itu semua, ia membutuhkan aku melebihi diriku yang membutuhkan ia.
Selama ini aku mengira, ia yang meninggalkan aku dan berkhianat atas semua yang pernah kita rasakan. Lalu sekarang, apakah aku yang meninggalkannya? Dan apakah aku yang berkhianat atas semua yang pernah aku dan Jingga rasakan?? Apakah mungkin ia selama ini hanya menahan diri untuk membagi hidupnya bersamaku agar aku tak turut larut dalam kisah malangnya?
Jingga maafkan aku yang tak sabar menunggumu.
Setelah reda sedu sedan-ku, Mas Pri lalu membuka bibirnya.
Mas Pri berkata dengan pelan dan lembut. Lagi-lagi tanpa keraguan.
“ Aku rela, sabil. Aku rela melepasmu… Ia membutuhkan kamu.”
***
Besoknya, aku mengumpulkan tubuhku untuk berkunjung ke kamar perawatannya. Sesampainya disana, kulihat JIngga terbaring lemah dan pulas dalam tidurnya. Disamping tempat tidur, ada ibunya yang setia menungguinya disana bahkan tak sempat berganti pakaian sejak terakhir kali aku melihatnya.Aku mengucapkan salam pada ibunya. Ia mencoba tersenyum dan berucap terima kasih atas tindakan heroikku menyelamatkan anaknya (yang kulakukan karena aku mencintainya).
Aku hanya tersenyum, dan memberitahunya bahwa aku adalah seseorang yang dahulu pernah menjalin kasih dengan puteranya.
Ia tidak kaget. Katanya, ia sudah mengetahuinya sejak kedatanganku kemarin dari bet nama jas dokterku . Aku terkejut setengah tak percaya.
Ia berkata, Jingga sering bercerita tentang aku kepadanya. Bercerita tentang, perempuan yang selama ini menemaninya berbagi kisah, mendengarkan semua keluh kesahnya, perempuan yang selama ini selalu menyayangi puteranya. Perempuan yang ia cintai dengan seluruh jiwanya.
Ia pun bercerita bagaimana Jingga meninggalkan aku karena sebulan sebelumnya ia telah divonis menderita penyakit Myasthenia Gravis karena tak mau aku lelah menemaninya dalam kesedihannya. Tentang kepedihan Jingga setiap harinya melawan penyakitnya seorang diri sekaligus melawan perasaan bersalahnya meninggalkan aku. Tentang setiap serangan penyakitnya yang membuat ia tak dapat melanjutkan cita-citanya bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri.
Ibu Jingga kadang terdiam sesaat untuk menahan tangis. Ia mencoba tegar untukku yang sedari tadi sudah terisak.
Aku katakan kepada Ibunya.
Aku sungguh merindukan Jingga.
Aku sungguh mencintai Jingga.
Dan aku katakan juga, besok aku akan menikah dengan orang lain.
***
Setelah semuanya, mungkin banyak yang mengira aku meninggalkan Mas Pri untuk Jingga.
Aku hanya menggeleng. Setelah semua yang Tuhan tunjukkan kepadaku. Aku tahu, Mas Pri-lah sosok yang Tuhan kehendaki untuk kutemani hingga akhir hayat. Walau Aku sungguh mencintai Jingga dan hingga sesaat sebelum aku bertemu dengan Jingga, segenap rindukupun hanya bisa kutitipkan pada angin yang berhembus.
Tapi, keputusanku adalah Tangan Tuhan, Campur Tangan Tuhan atas hidupku. Tak ada yang bisa merubahnya, dan tak ada yang bisa aku lakukan. Walau aku tak mengerti mengapa Tuhan mempertemukan aku dengan Jingga. Aku harus menerima kehendak Tuhan atas aku, JIngga, dan Mas Pri.
“Mas, Tuhan mengirimmu untuk menjadi imamku. 2 hari lagi kita sudah akan menikah. Tidak ada yang akan berubah. Kau hanya cukup tahu itu. Aku akan baik-baik saja”
Jawabku ketika ia bilang ia rela melepaskanku untuk Jingga.
Mas Pri hanya diam dan mengangguk. Ia tahu karakter keras kepalaku. Tapi aku yakin, ia tahu aku tak main-main dalam mengambil keputusan.
***
Kami menikah dalam suasana yang amat sederhana. Seolah Tuhan tahu aku tengah berduka, Ia lalu men-setting semuanya dengan kondisi yang tak berlebihan. Tak ada gempita pesta resepsi, tak ada gaun mewah, tak ada riuh suara gerombolan tamu. Semuanya hanya hening. Setidaknya bagiku.
Mas Pri pun tak banyak bicara. Ia hanya sesekali menengok ke arahku. Memastikan aku baik-baik saja.
Setelah pernikahan kami digelar. Mas Pri mengajakku berkunjung ke Rumah Sakit menemui Jingga. Sekali lagi, aku hanya diam tak kuasa untuk menyetujuinya bahkan untuk menolaknya. Ia memelukku erat sekali untuk pertama kalinya, dan meninggalkan aku dalam kegeminan getir dalam dadanya. Ia mengelus kepalaku untuk menenangkan aku.
Dengan masih menggenakan gaun pengantinku yang berwarna putih dan berpotongan sederhana serta baju beskap jawa yang Mas Pri kenakan, kami bergegas menuju Jingga. Tak peduli dengan banyaknya pasang mata yang melirik kearah kami, keheranan.
Sesampainya kami di kamar Jingga. Mas Pri menyalami Ibu Jingga. Aku memeluk Ibu Jingga. Lalu kuperkenalkan Mas Pri kepada Ibu. Ibu tersenyum sambil menyapa Mas Pri.
Pandanganku terantuk kepada Jingga yang ternyata sudah sadar dan sudah sejak tadi menyadari kedatanganku. Ia tersenyum. Aku tersenyum. Aku minta izin kepada Mas Pri untuk mendekati Jingga. Ia mengangguk.
Aku langkahkan kakiku menuju Jingga. Aku menangkap sorot mata milik Jingga yang telah lama hilang dari ingatanku. Sorot matanya yang hanya ia tujukan untukku. Ia lalu mencoba membuka mulut untuk berbicara. Ia tanyakan kabarku. Tak sanggup untuk berkata-kata, aku hanya mengangguk. Ia lalu memberiku selamat atas pernikahanku yang ia ketahui dari ibunya. Aku hanya mengangguk sambil mencoba untuk menahan banjir bandang dari kedua mataku.
Jingga berkata, dalam tidur malam-nya selama 2 hari berturut-turut ini, ia katakan ia bermimpi melihat aku dengan balutan gaun putih yang aku kenakan sekarang dan tengah tersenyum bahagia.
Aku hanya mengangguk sambil terisak.
***
4 tahun kemudian
***
Aku dan Mas Pri sungguh bahagia. Beruntung, Tuhan menganugerahi kami pernikahan yang harmonis lengkap dengan 2 anak yang hadir ke dunia menemani kami. Anak tertua kami berumur 3 tahun, Sukma Ayu Larasati. Sedangkan adiknya masih berada di rahimku dan insya Allah akan segera menyusul lahir ke dunia. Menurut USG, anak keduaku berjenis kelamin lelaki. Mas Pri memberinya nama, Jingga Putera Prihanggono.
Dari nama kedua anakku, Mas Pri abadikan sosok Jingga dalam kehidupan kami. Ia berujar, agar Jingga terus menemani perjalanan kami dan hidup di tengah-tengah keluarga kecilku.
Mas Pri memang pria yang baik.
Jingga sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu. Meninggal karena otot Jantungnya gagal berfungsi sehingga membuatnya mengalami gagal jantung.
Mas Pri pernah bercerita, sesaat setelah pertemuan pertamaku dengan jingga yang membuatnya melihatku untuk pertama kalinya berada dalam keadaan payah, Mas Pri menemui Jingga tanpa sepengetahuanku. Saat itu Jingga tengah terpekur diatas tempat tidurnya sambil menatap langit di balik jendela. Mas Pri lalu menyapanya dan memperkenalkan dirinya, serta menceritakan kejadiaan naas ketika ia koma. Jingga tersenyum ketika mendengar namaku keluar dari mulut Mas Pri. Jingga pun tersenyum kembali ketika mendengar Mas Pri mengatakan bahwa ialah yang akan menggantikan Jingga untuk menjagaku seumur hidupnya.
Lalu, Jingga berkata…
“Aku dulu selalu berdoa kepada Tuhan, agar Tuhan menetapkan ia untuk jadi istriku dan bersamanya akan kuukir kisah percintaan kami yang abadi... namun Tuhan berencana lain… Aku hanya sanggup menemaninya dalam kisaran waktu yang singkat. Amat singkat.
Prihanggono, Izinkanlah aku melihatnya menggenakan gaun pengantin berwarna putih, gaun yang selalu aku bayangkan ia kenakan di hari pernikahan kami. aku hanya ingin melihatnya tersenyum sambil mengenakan gaun itu.
Setelah itu, aku relakan Salsabila untuk menjadi tulang rusukmu…”
Jingga…
Aku berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberi wanita penggantiku atasmu di alam sana. Wanita yang menggantikanku setia mendampingimu, menggantikanku untuk mendengarkan segala cerita-ceritamu, menggantikanku untuk tertawa atas setiap guyonanmu, wanita yang tak pernah lelah menghibur atas setiap laramu… dan wanita yang akan selalu menyayangi dan mencintaimu selamanya.
Jingga…
Terima kasih pernah memberi warna dalam hidupku…
Kau akan terus hadir dalam hatiku …
Dan hati Mas Pri…
Jingga…
Jangan kau khawatirkan aku lagi…
Ada Mas Pri yang senantiasa melindungiku dan membuatku bahagia…
Jingga…
Semoga Tuhan berkenan mendekapmu disampingNya dan membuatmu tak akan pernah merasa kesepian lagi…
Kepada seorang Jingga…
Lalu kutitipkan anganku atasnya kepada angin
Agar turut terbang tinggi dan bebas di pusaran langit…
dan tak pernah kembali untuk sekedar menjejakkan kakinya di atas bumi…
hembusan udara keluar dari rongga mulutku…
“aku merindukanmu…”
***
-the end-
-the end-
Langganan:
Postingan (Atom)