Pada tanggal 20 Februari 2009, saya dan seorang teman yang bernama Kaka memutuskan untuk pergi ke Bandung (dari Jatinangor, jeng..) untuk menghadiri gelaran bursa buku murah di Landmark. Berhubung akhir minggu dan *ceritanya* kami sedang boke-bokenya kami berjanji : hanya melihat-lihat, tidak membeli barang satu buku pun.
Namun apa yang terjadi setelahnya bisa ditebak, kami akhirnya menyerah bahkan bisa dibilang hilang akal.
*namanya juga wanita....
Tanpa memedulikan dompet yang sudah sibuk teriak-teriak memperingatkan isinya yang cekak, saya mengambil beberapa lembar uang berwarna dominan biru dan menghabiskannya untuk membeli 5 buku. Tapi saya tidak menyesal. Toh, saya sudah lama tidak membeli buku, gumam saya dalam hati. Balas dendam. Lagipula, buku itu kan makanan jiwa. Jiwa pun butuh makanan seperti layaknya tubuh kita. Tambah saya lagi.
*walaupun pada akhirnya saya harus mengurut dada memendam keinginan untuk membeli barang kebutuhan minggu depannya. hahahahah..*
Buku yang saya beli berupa satu buah novel, satu buah kumpulan foto fashion, dan tiga buah buku bebas. Dari kelima buku tersebut yang menarik hati saya adalah sebuah novel karangan Ha Jin yang berjudul Waiting : Sebuah Penantian. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca novel ini terlebih dahulu. Untuk ukuran buku seharga empat porsi bakso (karena saya suka bakso, jadi perumpamaan di kemudian haripun dengan bakso saja yah... hahahahahhh), buku ini sangat memuaskan.
Bagaimana tidak..?
Karya seorang maestro sastrawan asal Cina yang berdomisili di Inggris ini bukanlah bacaan kacangan. Kontennya, alur cerita, gaya bahasa, dan sudut pandang cerita yang tidak biasa, membuat saya terlena dengan kisah yang dibawa oleh Ha Jin.
*Mau tau gimana ceritanya..? baca saja di review buku ini di postinganku yang terbaru*
Lanjut lagi dengan petualangan kami di bursa buku itu...
Kaka berhasil mendapatkan buku incerannya dengan harga relatif miring pula. buku tersebut bertajuk Api Sejarah yang ditulis oleh seorang profesor yang sering mengisi ceramah di masjid Salman untuk kalangan ITB. Berkisah tentang peranan umat muslim *yang ternyata amat besar* dalam sejarah bangsa kita, Indonesia.
hohohoo...
Setelah puas menggondol buku belanjaan, kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
Tapi tiba-tiba Kaka berbisik sesuatu...
"Teu... duit buat parkiran ludes siah..."
Namun apa yang terjadi setelahnya bisa ditebak, kami akhirnya menyerah bahkan bisa dibilang hilang akal.
*namanya juga wanita....
Tanpa memedulikan dompet yang sudah sibuk teriak-teriak memperingatkan isinya yang cekak, saya mengambil beberapa lembar uang berwarna dominan biru dan menghabiskannya untuk membeli 5 buku. Tapi saya tidak menyesal. Toh, saya sudah lama tidak membeli buku, gumam saya dalam hati. Balas dendam. Lagipula, buku itu kan makanan jiwa. Jiwa pun butuh makanan seperti layaknya tubuh kita. Tambah saya lagi.
*walaupun pada akhirnya saya harus mengurut dada memendam keinginan untuk membeli barang kebutuhan minggu depannya. hahahahah..*
Buku yang saya beli berupa satu buah novel, satu buah kumpulan foto fashion, dan tiga buah buku bebas. Dari kelima buku tersebut yang menarik hati saya adalah sebuah novel karangan Ha Jin yang berjudul Waiting : Sebuah Penantian. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca novel ini terlebih dahulu. Untuk ukuran buku seharga empat porsi bakso (karena saya suka bakso, jadi perumpamaan di kemudian haripun dengan bakso saja yah... hahahahahhh), buku ini sangat memuaskan.
Bagaimana tidak..?
Karya seorang maestro sastrawan asal Cina yang berdomisili di Inggris ini bukanlah bacaan kacangan. Kontennya, alur cerita, gaya bahasa, dan sudut pandang cerita yang tidak biasa, membuat saya terlena dengan kisah yang dibawa oleh Ha Jin.
*Mau tau gimana ceritanya..? baca saja di review buku ini di postinganku yang terbaru*
Lanjut lagi dengan petualangan kami di bursa buku itu...
Kaka berhasil mendapatkan buku incerannya dengan harga relatif miring pula. buku tersebut bertajuk Api Sejarah yang ditulis oleh seorang profesor yang sering mengisi ceramah di masjid Salman untuk kalangan ITB. Berkisah tentang peranan umat muslim *yang ternyata amat besar* dalam sejarah bangsa kita, Indonesia.
hohohoo...
Setelah puas menggondol buku belanjaan, kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
Tapi tiba-tiba Kaka berbisik sesuatu...
"Teu... duit buat parkiran ludes siah..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar