Temanku pun pernah memberi testimoninya untukku, mereka berkata aku layaknya ibu bagi mereka, dewasa dan mengayomi. Kalau memang nama adalah doa yang orang tua kirimkan untuk sang anak. Berarti mungkin doa ayah ibuku dikabulkan oleh Tuhan.
Aku pernah bertemu dengan seorang cenayang asal inggris di pesawat, dia berkata aku berjiwa tua (have an old soul…). Padahal ketika itu aku berusia 15 tahun.
Well, mereka tak salah. Aku memang berjiwa tua. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa aku tak canggung ketika berbicara atau mengobrol dengan orang yang sepantar dengan orang tuaku.
Sekarang aku berusia 28 tahun. Aku bekerja menjadi dokter di RS Hasan Sadikin Bandung. Sifatku itulah mengantarkan aku mengenal pria yang dulu pernah menjadi pasienku. Ia bernama Prihanggono Akbar Sasongko.
***
“Maukah kamu menjadi istriku??”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh Mas Pri, kemarin. Panggilanku untuk Prihanggono Akbar Sasongko. Pria yang dahulu pernah berobat padaku ini adalah seorang Eksekutif muda yang berdomisili di Jakarta. Kehidupan keras Jakarta tak membuatnya berubah menjadi orang yang skeptis dan materialistis. Kebalikkannya. Ia adalah pria Sholih, tak hanya rajin ibadah dan pintar mengaji, tak jarang ia puasa Senin-Kamis. Tak seperti kebanyakan pria, Ia pun sangat matang di usianya yang menginjak 32 tahun. Mungkin ini yang mengakibatkan aku nyaman dengannya. Wajah tampannya tak membuatnya menjadi seorang player, bahkan percaya tak percaya, pandangannya selalu terjaga. Ketika menatapku saat mengobrol pun, ia seperti menatap tembok yang ada di belakangku. Latar Belakangnya pun baik, berasal dari ayah tentara dan ibu rumah tangga. Menjadikan ia disiplin, tegas, tangguh sekaligus lembut dan romantis.
He’s just everything that you want from a guy…
Jika ada pepatah berkata tak ada gading yang tak retak. Mungkin Tuhan memberi pengecualian kepada Mas Pri.
Padahal kami baru bertemu sejak dua bulan lalu. Tapi dari suara lantangnya ketika melamarku tak sedikitpun tersirat keraguan.
Tapi…
Sayangnya aku tak punya rasa untuknya. Padahal ia tak kurang sesuatu apapun. Mungkin aku buta. Entahlah…
Aku bercerita pada ibuku, sosok labuhan curahan hatiku bertepi. Ibu berkata…
“Nduk, ada pria baik-baik dan sholih yang ingin memilikimu dengan cara yang baik agar kau halal untuknya. Itu menunjukkan ia sungguh menghormatimu sebagai perempuan. Apakah itu semua tidak cukup untukmu, anakku? seolah Tuhan mengirim ia untuk menjadi muhrimmu..”
Aku tak menjawab. Aku hanya diam dengan kepala terantuk di atas pangkuan ibuku.
***
Aku melamun. Lamunanku tertuju pada seseorang yang dahulu pernah bertahta di hatiku. Jingga Sukma Prakoso. Jingga adalah kekasihku sejak kami bersekolah di bangku SMA kelas satu. Tak seperti namanya, Jingga adalah seseorang yang rapuh, sensitive, melankolis, dan penyendiri. Namun hatinya bersih kalau tak bisa dibilang lugu atau culun. Ia tak lagi berayah sejak SMP, tak aneh dalam dirinya tak ditemukan sisi maskulin dalam jumlah besar. Ia tak seperti anak laki-laki lain yang gemar bermain basket, sibuk membentuk band, atau nongkrong di kafe. Ia banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama computer yang setia menemani. Ia pun tak seperti kebanyakan orang yang luwes bergaul, ia terdengar kaku saat berinteraksi lewat kata-kata, bahkan ketika bercengkrama.
Aku sungguh menyukainya kala itu.
Temanku pernah bertanya apa yang aku suka dari pria yang berpenampilan ‘nerd’ seperti jingga?
Aku hanya tersenyum dan menjawab…
“ aku menyukai semua tentangnya…”
Aku rindu cara ia memperlakukan aku. Sungguh canggung hingga membuat aku tak kuat menahan kulum senyum di tepi bibir. Aku rindu ketika ia menatapku, seolah-olah tak ada lagi benda di dunia yang ia bisa lihat, hanya ada aku. Aku rindu mendengar suaranya yang renyah dan bersemangat ketika ia bercerita tentang hobi IT-nya. Aku rindu melihat jaket merah yang selalu ia kenakan ketika kami pergi untuk jalan-jalan plesir di mall. Aku rindu melihat ia makan dengan lahap lunch box yang aku siapkan untuknya.
Aku rindu Jingga.
…
Kami dipisahkan oleh waktu.
Ketika hubungan kami menginjak tahun ke-5, ia memintaku untuk menunggunya yang akan melanjutkan kuliah ke Jepang. Aku lalu terdiam, aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak ingin jauh darinya, tapi ini demi cita yang telah lama ia dambakan. Aku tak kuasa menahannya.
Ia berkata ia akan kembali dua tahun lagi. Ia pun berkata, ia menitipkan hatinya padaku.
Setahun berikutnya sungguh terasa berat, ia tak pernah menghubungiku. Padahal setiap jam aku tanyakan kabarnya melalui email. Tak pernah ada balasan.
Aku berdoa kepada Tuhan, sang Pelipur Lara, agar Tuhan berkenan mendekatkan kami jika kami berjodoh, dan menjauhkan kami jika kami tak berjodoh. Jika kelak aku dan Jingga bertemu, itu adalah tanda dari Tuhan yang menetapkan kami untuk bersama.
2 tahun berlalu
7 tahun berlalu
He never come back…
Air mata. Kumpulannya menari-nari. Membasahi pipi.
***
Dua hari lagi, aku menikah dengan Mas Pri. Setelah seminggu, akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamarannya. Semoga kami mendapat berkah. Prosesnya memang cukup lama. Aku meminta petunjuk dari Tuhan. Tuhan lalu menjawabnya lima hari kemudian melalui buku yang tengah kubaca. Buku mengenai pengalaman sepasang pengantin yang mengikat hati di usia yang amat hijau. Dalam buku itu, Sang pengantin wanita berkata…
“ aku ingin pernikahan kita bukan berdasarkan atas cinta belaka.. aku ingin, pernikahan kita menjadi bukti tanda kebesaran Tuhan…”
Perkataan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. This is a sign… I have to receive it…
***
Jam 8 malam. Aku diberi tahu ada pasien gawat darurat dengan penyakit Myasthenia gravis, sebuah penyakit yang membuat penderitanya kehilangan kontak antara system syaraf pusat dengan organ-organ tubuh, tengah mengalami kesulitan bernafas. Aku diminta untuk melakukan penanganan darurat bantuan hidup. Ketika itu perawat menyodorkan rekam medis dengan nama…
Jingga Sukma Prakoso
Seketika tubuhku luluh lantak dan terhuyung hingga tembok. Buncahan air mata sudah ada di tepian kelopak mata.
Aku tak bisa menangis. Sekarang posisiku bukanlah kekasihnya yang merindukannya dan sekarang mendapati ia tak berdaya di ujung maut. Detik ini, aku seorang dokter yang tak diperbolehkan menunjukkan emosinya kepada pasiennya.
Dengan langkah tegap, kususuri lantai mengikuti barisan perawat yang berlari sambil berteriak memanggilku. Sampailah aku didepan tirai, dan segera kusingkap.
Jingga koma.
Dengan sigap, aku berikan resusitasi jantung dan bantuan nafas. Aku melakukannya dengan tenang dan gesit. Sungguh diluar dugaan, mengingat sebenarnya hatiku hancur berpuing-puing. Di sampingku ada wanita paruh baya yang menangis sejadinya, bisa ditebak, Ia ibu Jingga.
Akhirnya Jingga kembali. Detak jantung dan nafasnya mulai normal. Sesaat setelahnya aku sudah keluar ruangan dan berlari menuju toilet.
Tempat aku bisa menumpahkan semua puing yang berserakkan dan air mata yang telah tak sabar ingin segera membanjiri pipi. Tempat aku bisa menjadi kekasih jingga lagi.
***
Aku menelepon Mas Pri dan menceritakan semuanya. Ia datang dan hanya menyaksikan aku menangis sejadi-jadinya. Ini pertama kalinya Mas Pri melihatku begini lusuh dan lemah. Aku tak peduli.
Ia hanya diam.
Pikiranku melayang pada Jingga. Kepada janjinya yang akan kembali setelah 2 tahun ia pergi. Kepada hatinya yang ia titipkan kepadaku. Kepada semua kenangan yang ia torehkan di hatiku. Lalu sekarang Jingga kembali dengan keadaan yang berbeda. tak sesempurna dulu, tak sesehat dulu dan jauh lebih rapuh dibandingkan dulu. Lebih dari itu semua, ia membutuhkan aku melebihi diriku yang membutuhkan ia.
Selama ini aku mengira, ia yang meninggalkan aku dan berkhianat atas semua yang pernah kita rasakan. Lalu sekarang, apakah aku yang meninggalkannya? Dan apakah aku yang berkhianat atas semua yang pernah aku dan Jingga rasakan?? Apakah mungkin ia selama ini hanya menahan diri untuk membagi hidupnya bersamaku agar aku tak turut larut dalam kisah malangnya?
Jingga maafkan aku yang tak sabar menunggumu.
Setelah reda sedu sedan-ku, Mas Pri lalu membuka bibirnya.
Mas Pri berkata dengan pelan dan lembut. Lagi-lagi tanpa keraguan.
“ Aku rela, sabil. Aku rela melepasmu… Ia membutuhkan kamu.”
***
Besoknya, aku mengumpulkan tubuhku untuk berkunjung ke kamar perawatannya. Sesampainya disana, kulihat JIngga terbaring lemah dan pulas dalam tidurnya. Disamping tempat tidur, ada ibunya yang setia menungguinya disana bahkan tak sempat berganti pakaian sejak terakhir kali aku melihatnya.Aku mengucapkan salam pada ibunya. Ia mencoba tersenyum dan berucap terima kasih atas tindakan heroikku menyelamatkan anaknya (yang kulakukan karena aku mencintainya).
Aku hanya tersenyum, dan memberitahunya bahwa aku adalah seseorang yang dahulu pernah menjalin kasih dengan puteranya.
Ia tidak kaget. Katanya, ia sudah mengetahuinya sejak kedatanganku kemarin dari bet nama jas dokterku . Aku terkejut setengah tak percaya.
Ia berkata, Jingga sering bercerita tentang aku kepadanya. Bercerita tentang, perempuan yang selama ini menemaninya berbagi kisah, mendengarkan semua keluh kesahnya, perempuan yang selama ini selalu menyayangi puteranya. Perempuan yang ia cintai dengan seluruh jiwanya.
Ia pun bercerita bagaimana Jingga meninggalkan aku karena sebulan sebelumnya ia telah divonis menderita penyakit Myasthenia Gravis karena tak mau aku lelah menemaninya dalam kesedihannya. Tentang kepedihan Jingga setiap harinya melawan penyakitnya seorang diri sekaligus melawan perasaan bersalahnya meninggalkan aku. Tentang setiap serangan penyakitnya yang membuat ia tak dapat melanjutkan cita-citanya bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri.
Ibu Jingga kadang terdiam sesaat untuk menahan tangis. Ia mencoba tegar untukku yang sedari tadi sudah terisak.
Aku katakan kepada Ibunya.
Aku sungguh merindukan Jingga.
Aku sungguh mencintai Jingga.
Dan aku katakan juga, besok aku akan menikah dengan orang lain.
***
Setelah semuanya, mungkin banyak yang mengira aku meninggalkan Mas Pri untuk Jingga.
Aku hanya menggeleng. Setelah semua yang Tuhan tunjukkan kepadaku. Aku tahu, Mas Pri-lah sosok yang Tuhan kehendaki untuk kutemani hingga akhir hayat. Walau Aku sungguh mencintai Jingga dan hingga sesaat sebelum aku bertemu dengan Jingga, segenap rindukupun hanya bisa kutitipkan pada angin yang berhembus.
Tapi, keputusanku adalah Tangan Tuhan, Campur Tangan Tuhan atas hidupku. Tak ada yang bisa merubahnya, dan tak ada yang bisa aku lakukan. Walau aku tak mengerti mengapa Tuhan mempertemukan aku dengan Jingga. Aku harus menerima kehendak Tuhan atas aku, JIngga, dan Mas Pri.
“Mas, Tuhan mengirimmu untuk menjadi imamku. 2 hari lagi kita sudah akan menikah. Tidak ada yang akan berubah. Kau hanya cukup tahu itu. Aku akan baik-baik saja”
Jawabku ketika ia bilang ia rela melepaskanku untuk Jingga.
Mas Pri hanya diam dan mengangguk. Ia tahu karakter keras kepalaku. Tapi aku yakin, ia tahu aku tak main-main dalam mengambil keputusan.
***
Kami menikah dalam suasana yang amat sederhana. Seolah Tuhan tahu aku tengah berduka, Ia lalu men-setting semuanya dengan kondisi yang tak berlebihan. Tak ada gempita pesta resepsi, tak ada gaun mewah, tak ada riuh suara gerombolan tamu. Semuanya hanya hening. Setidaknya bagiku.
Mas Pri pun tak banyak bicara. Ia hanya sesekali menengok ke arahku. Memastikan aku baik-baik saja.
Setelah pernikahan kami digelar. Mas Pri mengajakku berkunjung ke Rumah Sakit menemui Jingga. Sekali lagi, aku hanya diam tak kuasa untuk menyetujuinya bahkan untuk menolaknya. Ia memelukku erat sekali untuk pertama kalinya, dan meninggalkan aku dalam kegeminan getir dalam dadanya. Ia mengelus kepalaku untuk menenangkan aku.
Dengan masih menggenakan gaun pengantinku yang berwarna putih dan berpotongan sederhana serta baju beskap jawa yang Mas Pri kenakan, kami bergegas menuju Jingga. Tak peduli dengan banyaknya pasang mata yang melirik kearah kami, keheranan.
Sesampainya kami di kamar Jingga. Mas Pri menyalami Ibu Jingga. Aku memeluk Ibu Jingga. Lalu kuperkenalkan Mas Pri kepada Ibu. Ibu tersenyum sambil menyapa Mas Pri.
Pandanganku terantuk kepada Jingga yang ternyata sudah sadar dan sudah sejak tadi menyadari kedatanganku. Ia tersenyum. Aku tersenyum. Aku minta izin kepada Mas Pri untuk mendekati Jingga. Ia mengangguk.
Aku langkahkan kakiku menuju Jingga. Aku menangkap sorot mata milik Jingga yang telah lama hilang dari ingatanku. Sorot matanya yang hanya ia tujukan untukku. Ia lalu mencoba membuka mulut untuk berbicara. Ia tanyakan kabarku. Tak sanggup untuk berkata-kata, aku hanya mengangguk. Ia lalu memberiku selamat atas pernikahanku yang ia ketahui dari ibunya. Aku hanya mengangguk sambil mencoba untuk menahan banjir bandang dari kedua mataku.
Jingga berkata, dalam tidur malam-nya selama 2 hari berturut-turut ini, ia katakan ia bermimpi melihat aku dengan balutan gaun putih yang aku kenakan sekarang dan tengah tersenyum bahagia.
Aku hanya mengangguk sambil terisak.
***
4 tahun kemudian
***
Aku dan Mas Pri sungguh bahagia. Beruntung, Tuhan menganugerahi kami pernikahan yang harmonis lengkap dengan 2 anak yang hadir ke dunia menemani kami. Anak tertua kami berumur 3 tahun, Sukma Ayu Larasati. Sedangkan adiknya masih berada di rahimku dan insya Allah akan segera menyusul lahir ke dunia. Menurut USG, anak keduaku berjenis kelamin lelaki. Mas Pri memberinya nama, Jingga Putera Prihanggono.
Dari nama kedua anakku, Mas Pri abadikan sosok Jingga dalam kehidupan kami. Ia berujar, agar Jingga terus menemani perjalanan kami dan hidup di tengah-tengah keluarga kecilku.
Mas Pri memang pria yang baik.
Jingga sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu. Meninggal karena otot Jantungnya gagal berfungsi sehingga membuatnya mengalami gagal jantung.
Mas Pri pernah bercerita, sesaat setelah pertemuan pertamaku dengan jingga yang membuatnya melihatku untuk pertama kalinya berada dalam keadaan payah, Mas Pri menemui Jingga tanpa sepengetahuanku. Saat itu Jingga tengah terpekur diatas tempat tidurnya sambil menatap langit di balik jendela. Mas Pri lalu menyapanya dan memperkenalkan dirinya, serta menceritakan kejadiaan naas ketika ia koma. Jingga tersenyum ketika mendengar namaku keluar dari mulut Mas Pri. Jingga pun tersenyum kembali ketika mendengar Mas Pri mengatakan bahwa ialah yang akan menggantikan Jingga untuk menjagaku seumur hidupnya.
Lalu, Jingga berkata…
“Aku dulu selalu berdoa kepada Tuhan, agar Tuhan menetapkan ia untuk jadi istriku dan bersamanya akan kuukir kisah percintaan kami yang abadi... namun Tuhan berencana lain… Aku hanya sanggup menemaninya dalam kisaran waktu yang singkat. Amat singkat.
Prihanggono, Izinkanlah aku melihatnya menggenakan gaun pengantin berwarna putih, gaun yang selalu aku bayangkan ia kenakan di hari pernikahan kami. aku hanya ingin melihatnya tersenyum sambil mengenakan gaun itu.
Setelah itu, aku relakan Salsabila untuk menjadi tulang rusukmu…”
Jingga…
Aku berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberi wanita penggantiku atasmu di alam sana. Wanita yang menggantikanku setia mendampingimu, menggantikanku untuk mendengarkan segala cerita-ceritamu, menggantikanku untuk tertawa atas setiap guyonanmu, wanita yang tak pernah lelah menghibur atas setiap laramu… dan wanita yang akan selalu menyayangi dan mencintaimu selamanya.
Jingga…
Terima kasih pernah memberi warna dalam hidupku…
Kau akan terus hadir dalam hatiku …
Dan hati Mas Pri…
Jingga…
Jangan kau khawatirkan aku lagi…
Ada Mas Pri yang senantiasa melindungiku dan membuatku bahagia…
Jingga…
Semoga Tuhan berkenan mendekapmu disampingNya dan membuatmu tak akan pernah merasa kesepian lagi…
Kepada seorang Jingga…
Lalu kutitipkan anganku atasnya kepada angin
Agar turut terbang tinggi dan bebas di pusaran langit…
dan tak pernah kembali untuk sekedar menjejakkan kakinya di atas bumi…
hembusan udara keluar dari rongga mulutku…
“aku merindukanmu…”
***
-the end-
-the end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar