Namaku Meranti, panggilanku Ranti. Aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang hangat, ibuku seorang ibu rumah tangga yang jauh dari kata “hanya ibu rumah tangga”. Setahuku beliau makhluk paling hebat yang Tuhan ciptakan. Yah, ibu memang panutanku.
Aku ingat suatu saat, ketika aku masih bersekolah di SD, disaat ibu-ibu anak lain yang sedang menunggui anak-anaknya berkumpul dan bergosip, ibuku hanya duduk ditepian bangku sambil membaca buku dongeng untuk anak-anak. Bukan. Bukan berarti ibuku tak gaul atau tak pandai berbaur, hanya tak mau membuang waktunya untuk mempermalukan dirinya dan keluarganya dengan mempergunjingkan aurat orang. Itu yang aku tahu, walau ibuku tak pernah memberitahuku. Lalu mengapa ibuku membaca buku dongeng anak-anak? Untuk yang satu ini beliau menjawab.
“ ibu sedang mempersiapkan dongeng orang hebat siapa lagi yang akan ibu bacakan untukmu nanti malam.. agar kau kelak jadi orang yang hebat pula, putriku”
Ibu. Ibu. Ibu. Itu yang pernah Rasul bilang ketika ditanya kepada siapa kita berbakti. Tak salah memang.
Lalu Ayahku. Ayahku tak kalah hebat dari ibu. Ayah adalah pria paling lembut yang pernah aku kenal. Walau kami tak terlalu sering berinteraksi secara langsung, karena beliau sibuk mencari nafkah untuk keluarganya, namun hebatnya, beliau tak pernah lupa menciumi putra-putrinya yang sudah terlelap ketika beliau pulang larut malam. Setiap hari. Yah setiap hari beliau pulang larut, sudah sejak aku duduk di bangku TK. Kabarnya, yang kudengar dari Mbok Sum, wanita yang membantu ibuku dirumah, ayahku diangkat jadi wakil direktur di perusahaan pertambangan nasional tempat ayahku bekerja. Jadi wajar ayahku jarang ada di rumah ketika kami putra-putrinya sedang dalam kondisi “on”.
Pernah suatu ketika, Ayahku berjanji untuk membawa kami bermain ke taman hiburan ketika akhir minggu tiba. Tapi Saat tiba waktunya, ayah membatalkannya tiba-tiba karena ada rapat yang harus ia datangi. Padahal aku dan adikku, Tantri sudah menyiapkan sepasang baju renang kuning bermotif bentuk hati pink, dua ember kecil untuk bermain pasir lengkap dengan sekopnya, kacamata renang berwarna pink dan biru, serta tak lupa lipatan baju baru yang akan kami kenakan.
Tentu saja, aku dan adikku sudah pasti marah, dan mogok ngobrol dengan ayahku dua hari penuh. Walaupun sebenarnya untuk mengobati kekecewaan kami, sehari setelahnya kami sudah diajak ibu main ke kolam renang umum yang ada di kompleks perumahan sebelah kami. Tapi perlakuan kami pada ayah tetap tak berubah. Jutek saja.
Ayahku lalu membelikan kami es krim mencoba untuk meredakan amarah kami. Namun es krim yang ia sodorkan kami tepis dengan tangan dan akhirnya terjatuh ke lantai. What a spoiled babies... Aku selalu ingat ekspresi air muka ayahku dengan sorot matanya yang layu.
Malamnya, aku tak bisa tidur. Merasa tak enak hati ingin meminta maaf kepada Ayahku, tapi aku gengsi. Akhirnya aku putuskan untuk menulis surat untuk ayahku. Isinya seperti ini…
Aku ingat suatu saat, ketika aku masih bersekolah di SD, disaat ibu-ibu anak lain yang sedang menunggui anak-anaknya berkumpul dan bergosip, ibuku hanya duduk ditepian bangku sambil membaca buku dongeng untuk anak-anak. Bukan. Bukan berarti ibuku tak gaul atau tak pandai berbaur, hanya tak mau membuang waktunya untuk mempermalukan dirinya dan keluarganya dengan mempergunjingkan aurat orang. Itu yang aku tahu, walau ibuku tak pernah memberitahuku. Lalu mengapa ibuku membaca buku dongeng anak-anak? Untuk yang satu ini beliau menjawab.
“ ibu sedang mempersiapkan dongeng orang hebat siapa lagi yang akan ibu bacakan untukmu nanti malam.. agar kau kelak jadi orang yang hebat pula, putriku”
Ibu. Ibu. Ibu. Itu yang pernah Rasul bilang ketika ditanya kepada siapa kita berbakti. Tak salah memang.
Lalu Ayahku. Ayahku tak kalah hebat dari ibu. Ayah adalah pria paling lembut yang pernah aku kenal. Walau kami tak terlalu sering berinteraksi secara langsung, karena beliau sibuk mencari nafkah untuk keluarganya, namun hebatnya, beliau tak pernah lupa menciumi putra-putrinya yang sudah terlelap ketika beliau pulang larut malam. Setiap hari. Yah setiap hari beliau pulang larut, sudah sejak aku duduk di bangku TK. Kabarnya, yang kudengar dari Mbok Sum, wanita yang membantu ibuku dirumah, ayahku diangkat jadi wakil direktur di perusahaan pertambangan nasional tempat ayahku bekerja. Jadi wajar ayahku jarang ada di rumah ketika kami putra-putrinya sedang dalam kondisi “on”.
Pernah suatu ketika, Ayahku berjanji untuk membawa kami bermain ke taman hiburan ketika akhir minggu tiba. Tapi Saat tiba waktunya, ayah membatalkannya tiba-tiba karena ada rapat yang harus ia datangi. Padahal aku dan adikku, Tantri sudah menyiapkan sepasang baju renang kuning bermotif bentuk hati pink, dua ember kecil untuk bermain pasir lengkap dengan sekopnya, kacamata renang berwarna pink dan biru, serta tak lupa lipatan baju baru yang akan kami kenakan.
Tentu saja, aku dan adikku sudah pasti marah, dan mogok ngobrol dengan ayahku dua hari penuh. Walaupun sebenarnya untuk mengobati kekecewaan kami, sehari setelahnya kami sudah diajak ibu main ke kolam renang umum yang ada di kompleks perumahan sebelah kami. Tapi perlakuan kami pada ayah tetap tak berubah. Jutek saja.
Ayahku lalu membelikan kami es krim mencoba untuk meredakan amarah kami. Namun es krim yang ia sodorkan kami tepis dengan tangan dan akhirnya terjatuh ke lantai. What a spoiled babies... Aku selalu ingat ekspresi air muka ayahku dengan sorot matanya yang layu.
Malamnya, aku tak bisa tidur. Merasa tak enak hati ingin meminta maaf kepada Ayahku, tapi aku gengsi. Akhirnya aku putuskan untuk menulis surat untuk ayahku. Isinya seperti ini…
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Ayah
Apa kabar, Ayah? Ranti baik-baik saja. Kemarin aku dan ade maen ke kolam renang sama ibu. Asik banget loh, yah.. sayang ayah ga bisa ikut.
Ayah pasti capek yah rapat melulu. Ranti suka kasian liat ayah kecapean abis pulang rapat. Ayah jangan lupa makan yang banyak yah, Yah… supaya Ayah bisa main-main lagi sama kita nanti.
Ayah, sebenernya aku marah loh dua hari kemarin. Abis ayah jahat. Masa dibatalin sih jalan-jalannya. Padahal Ranti sama Ade kan girang banget akhirnya bisa main-main sama ayah dan ibu.
Kemarin, ibu bilang kalo ayah sibuk nyari uang untuk beliin barbie, baju baru, buku cerita, komik chibi maruko-chan, dan mainan masak-masakkan untuk Ranti. Jadi gak bisa jalan-jalan sama kita. Ayah, sebenernya Ranti cuma kangen sama Ayah yang udah jarang banget main sama kita. Ayah ga usah repot-repot nyenengin Ranti ngasih mainan buat Ranti. Ranti cuma pingin Ayah.
Maafin Ranti yah, Yah… kemarin udah ngebuat es krim dari ayah jatuh ke lantai. Padahal sebenernya Ranti ga marah lagi sama ayah.
Ayah,
Ayah itu ayah yang paling hebat sedunia.
Ayah jangan sedih lagi yah…
Ranti sayang sama ayah.
(Ranti)
NB: Ayah, jangan lupa beliin boneka Winnie the pooh yang ayah janjiin hari minggu kemarin yah!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kertaspun kulipat dan kutaruh di atas meja makan tempat ayah biasanya pagi-pagi sebelum berangkat membaca koran dan sarapan. Setelah itu aku merasa lega dan bisa tidur dengan pulas. Sehari setelahnya boneka Winnie the pooh tiba-tiba sudah kupeluk ketika bangun dari tidur. Walaupun besok-besoknya ayah tetap pulang malam. Dan kami hanya bertemu di akhir pekan, namun suasananya tiba-tiba sudah mencair.
Tapi baru-baru ini, aku menemukan surat yang kutulis untuk ayah masih tersimpan rapi di laci meja beliau. Dan akhirnya ibu bercerita padaku. Pada malam aku letakkan surat di meja makan, Pagi-pagi setelah bangun dari tidur, ayah membacanya. Ibuku menengok dari balik pintu kamar, dan mendapati ayahku menangis membaca surat dariku. Sejak saat itu surat yang kutulis terlipat rapih di agendanya dan selalu beliau bawa kemanapun beliau pergi.
Sepakat denganku kan. Ayahku adalah ayah yang paling manis sedunia kan?
Malam ini, Ibu, Aku dan Tantri sholat isya berjamaah. Setelah sholat, ibuku memimpin doa. Memanjat doa untuk Ayah yang telah tiada. Agar Ayah selalu bahagia di alam sana.
Kami tidak menangis tapi bukan berarti tidak sedih. Kami hanya mencoba memahami bahwa Ayahku pasti amat bahagia, karena Ayah telah menemui Tuhan yang Ayah amat beliau cintai dan beliau rindukan.
Yah, benar. Ayahku, Ayah Tantri dan Suami ibuku telah meninggalkan kami. Insya Allah, khusnulkhotimah. Beliau pergi ketika tengah menunaikan sholat, dengan posisi sujud. Posisi dimana manusia sangat dekat dengan Tuhan. Menandakan betapa Tuhan amat baik pada Ayahku, dan betapa Ayahku luar biasa beruntung Tuhan meridhoi kepergiannya dari dunia, dan kedatangannya menghadapNya. Insya Allah.
Kami teringat wajah terakhir ayahku sebelum kami berpisah. Wajahnya cerah bersinar, terdapat senyum tersemat disana, dan air mukanya pun amat teduh. Tiada peluh, tiada sendu, tiada kalut dan tiada kecemasan. Wajahnya amat tampan cemerlang, bahkan diantara kami yang mengitarinya, yang masih diberi hidup oleh Tuhan.
Tuhan, sediakanlah istana paling indah yang ada di Surga untuk Ayah kami tercinta. Tempatkan beliau di tempat yang paling dekat dengan Engkau. Karena kami tahu, Ayah kami selalu merindukkanMu seumur hidupnya. Perkenankanlah beliau bila tiba saatnya kelak bertemu denganMu, dan mendengar salamMu, Ya Rabb. Karena hanya itu yang Ayah kami selalu harapkan setiap malam. Cintai Ayah kami, Ya Rabb. Karena Ayah kami pun amat mencintai Engkau. Bahkan setiap helai nafasnya adalah dzikirnya kepada Engkau. Ridloi ia untuk menjadi kekasihmu, Ya Rabb. Walau ia tak sesempurna Rasulullah, tapi beliau manusia yang selalu memimpikan cintaMu, Ya Rabb.
Teruntuk Ayah... Aku berdoa kepada Tuhan, Agar Tuhan mempertemukan kita kembali di surga kelak, dan berkenan meridloi untuk menjadikan kita satu keluarga lagi.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tapi baru-baru ini, aku menemukan surat yang kutulis untuk ayah masih tersimpan rapi di laci meja beliau. Dan akhirnya ibu bercerita padaku. Pada malam aku letakkan surat di meja makan, Pagi-pagi setelah bangun dari tidur, ayah membacanya. Ibuku menengok dari balik pintu kamar, dan mendapati ayahku menangis membaca surat dariku. Sejak saat itu surat yang kutulis terlipat rapih di agendanya dan selalu beliau bawa kemanapun beliau pergi.
Sepakat denganku kan. Ayahku adalah ayah yang paling manis sedunia kan?
***
Malam ini, Ibu, Aku dan Tantri sholat isya berjamaah. Setelah sholat, ibuku memimpin doa. Memanjat doa untuk Ayah yang telah tiada. Agar Ayah selalu bahagia di alam sana.
Kami tidak menangis tapi bukan berarti tidak sedih. Kami hanya mencoba memahami bahwa Ayahku pasti amat bahagia, karena Ayah telah menemui Tuhan yang Ayah amat beliau cintai dan beliau rindukan.
Yah, benar. Ayahku, Ayah Tantri dan Suami ibuku telah meninggalkan kami. Insya Allah, khusnulkhotimah. Beliau pergi ketika tengah menunaikan sholat, dengan posisi sujud. Posisi dimana manusia sangat dekat dengan Tuhan. Menandakan betapa Tuhan amat baik pada Ayahku, dan betapa Ayahku luar biasa beruntung Tuhan meridhoi kepergiannya dari dunia, dan kedatangannya menghadapNya. Insya Allah.
Kami teringat wajah terakhir ayahku sebelum kami berpisah. Wajahnya cerah bersinar, terdapat senyum tersemat disana, dan air mukanya pun amat teduh. Tiada peluh, tiada sendu, tiada kalut dan tiada kecemasan. Wajahnya amat tampan cemerlang, bahkan diantara kami yang mengitarinya, yang masih diberi hidup oleh Tuhan.
Tuhan, sediakanlah istana paling indah yang ada di Surga untuk Ayah kami tercinta. Tempatkan beliau di tempat yang paling dekat dengan Engkau. Karena kami tahu, Ayah kami selalu merindukkanMu seumur hidupnya. Perkenankanlah beliau bila tiba saatnya kelak bertemu denganMu, dan mendengar salamMu, Ya Rabb. Karena hanya itu yang Ayah kami selalu harapkan setiap malam. Cintai Ayah kami, Ya Rabb. Karena Ayah kami pun amat mencintai Engkau. Bahkan setiap helai nafasnya adalah dzikirnya kepada Engkau. Ridloi ia untuk menjadi kekasihmu, Ya Rabb. Walau ia tak sesempurna Rasulullah, tapi beliau manusia yang selalu memimpikan cintaMu, Ya Rabb.
Teruntuk Ayah... Aku berdoa kepada Tuhan, Agar Tuhan mempertemukan kita kembali di surga kelak, dan berkenan meridloi untuk menjadikan kita satu keluarga lagi.
Ayah,
Ayah itu ayah yang paling hebat sedunia.
Ayah jangan sedih lagi yah…
Ranti sayang sama ayah.
(Ranti)
NB: Ayah, jangan lupa beliin boneka Winnie the pooh yang ayah janjiin hari minggu kemarin yah!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-the end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar