Senin, 01 Maret 2010

Obsesi : Sambal

Mungkin semua sahabat saya pasti sudah hapal dengan obsesi saya akan satu hal ini. SAMBAL. Buat saya apapun makanannya, minumannya pasti sambal.

*heheh... kamu pikir saya bercanda? tidak kawan, saya serius..*

Dari sarapan nasi goreng di pagi hari dengan dua sendok makan sambal, kemilan berupa buah-buahan ibu M di kantin lengkap dengan satu sendok sambal cabe bubuk, kemilan kerupuk seblak (berupa kerupuk yang digoreng setengah matang disajikan dengan sambal cabe bubuk, rasanya...?? tentu pedas bukan main kawan..., teman saya pernah mencoba mengonsumsinya, percaya atau tidak, sampai merem melek dia, kawan...), makan siang berupa sekerat nasi dan lauk pauk serta tak lupa sambal, makan sore dengan menu yang sama dan tentu tak ketinggalan, sang belahan hati pun hadir, sambal.

Pernah suatu ketika saya membeli semangkuk bakso dan memberi empat sendok makan sambal di atas kuah bakso. saya biasa saja. teman-teman saya heboh. Mereka bilang...

"Tanteuu (panggilan sayang untuk saya dari sahabat-sahabat saya)... kamu makan bakso pake sambal atau makan sambel pake bakso..???"

*retoris... jawabannya pasti saya makan sambal pake bakso dong...*

Pengalaman saya dengan sambal tak terlepas hanya itu saja. Pernah suatu malam, waktu sudah menunjukkan jam 9, saya baru saja pulang kuliah. Perut sudah sibuk ngamen keroncongan bahkan mungkin sudah lagu rock sekarang, sedari masih di perjalanan menuju rumah dari kampus. Begitu sampai, langsung saja saya sambar penutup hidangan di atas meja makan. Ada nasi, sayur, beberapa kerat tempe tahu dan beberapa potong daging (saya tak ingat pasti daging apa... entah daging ayam, sapi, atau mungkin rusa atau gajah.. saya lupa...).

Ada yang kurang.

Ya.. apa lagi kalau bukan sambal....

Akhirnya saya putuskan untuk menggenapi lauk pauk teman nasi yang akan saya makan dengan sambal. "Okai, saya akan membuat sambal!" teguh saya dalam hati. Namun ketika saya membuka lemari pendingin, tidak ada sang cengek (cabai muda berwarna hijau yang ukurannya kurang lebih 1-2 cm -red)yang merupakan bahan dasar untuk membuat sambal.

tidak jadi membuat sambal...?

tidak mungkin.
saya sudah kadung bersemangat, pikiran saya sudah penuh dengan bayangan sambal terasi nan lezat dan menggoda itu sampai di ujung lidah saya. Air liur saya sudah tak bisa saya telan lagi.

Lalu saya berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan cengek di malam hari dimana semua warung yang ada sudah tutup??

Lalu terpikir satu ide...
bagaimana kalau saya meminta satu genggam cengek kepada tetangga sebelah...

konyol... pikir saya....

Lalu tercetuslah ide brilian.
yaitu membeli gorengan. Kalau beli beberapa bala-bala kan pasti diberi cengek kan...?

Okay...! berangkat...!

Dengan semangat, saya ayunkan kaki dan melangkah menuju abang-abang penjual gorengan langganan. Begitu sampai, pandangan saya langsung mencari-cari gorengan yang salty. Namun saya tidak melihat barang yang ingin saya beli, bahkan remahannya saja tidak ada. Lalu saya tanya si abangnya...

"om (*panggilan saya untuk abang-abang), bala-bala gak ada..?"

"udah abis, neng... "

"gehu..? mendoan...?"

"gak ada neng... ada juga pisang goreng..."

"yaudah deh... pisang goreng aja deh empat yak...!"

abang tukang goreng pun membungkuskan empat pisang goreng yang saya beli.

"ini, neng..."

"iya, om... eeeh... kela (bahasa sunda, artinya nanti dulu -red)... om, gimana sih ko gak ada cengeknya..??"

"neng, ari eneng.... makan pisang sama cengek..??"

Begitulah...
Akhirnya saya pun bisa mendapatkan cengek untuk membuat sambal.
Dan malam itu pun berakhir dengan bahagia.
Dan saya bisa tidur nyenyak.

Meninggalkan abang penjual gorengan dengan senyumannya.

geli dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar