Senin, 14 Juni 2010

Dear Serly...

Aku melihatmu menangis lagi. Padahal aku paling tidak bisa melihat orang menangis. Apalagi tangisan yang tak sesenggukan, tak bersedu sedan. Hanya bulir air mata yang menetes satu demi satu. Aaaaaaarrrrggggghhhhhh…..!

“Ceritakan kepadaku mengapa kau menangis…...”

Andai saja aku bisa berbicara begitu. Tapi aku tak tega. Yang dapat kulakukan adalah hanya membiarkan kau menangis hingga habis tetes air matamu untuk yang kesekian. Walau ada banyak tanya yang hinggap di pikiranku.

Apa si player reza itu yang membuat kau menangis? Apa si cathy kunti yang centil itu orangnya? Atau kamu baru saja dipalak preman…??? Di gebuk dosen…??? Atau dicium truk…???

“Ayo, Serliii… ceritakanlaaaah…”

2 jam. Kau masih saja menyembunyikan tubuhmu dalam posisi persis ketika kamu masih di perut ibumu. Meringkuk. Asyik dengan heningmu.

Lalu kau menegapkan tengkukmu yang telah lama menekuk. Mengusap deretan air mata yang lelah berbaris di pojokan sudut matamu, dan menegakkan kembali posisi dudukmu. Berikutnya kau katupkan kedua tanganmu menutupi wajah cantikmu yang tengah mendung. Hanya butuh 5 detik saja wajah itu tersembunyi.

Aku sudah hapal gesture ini. Inilah ancang-ancangmu.

Dan akupun sudah siap mendengar curhatmu. Menjadi tong sampahmu lagi.

Lalu kau mulai membuka bibirmu. Terdengar suara yang bergetar keluar. Sengau.

“Deangrr Ry…. Aku manguu cernggitaaa…”

***

Ooo…

Ternyata kamu baru saja mengalami patah hati *lagi*. Kali ini dengan orang baru. Tidak main-main. Pria beristri saudara-saudara! Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin kamu bisa jatuh hati dengan pria macam itu.

Bukan. Pertanyaan seharusnya adalah, bagaimana mungkin kamu bisa mengenal pria itu. Dan mengapa kau masih mau mengenalnya kalau dia sudah beristri…???

Hadooooohhh….

Kau berkata kau mengenalnya 2 minggu lalu lewat telepon salah sambung. Awalnya tak kau hiraukan. Namun karena ia rajin menelponmu tiap jam (baca : menggodamu-red) lalu kau luluh. dan kau anggap kebetulan ini adalah takdir.

Lugu.

Bodoh lebih tepatnya. Heeloooww… Serliiiii…. Orang manapun juga bakal bilang kalau itu telpon orang iseng yang menelpon secara random untuk mendapatkan mangsa cewek-cewek yang kesepian, yang terlalu lama sendiri, yang terlalu malu untuk bertemu orang, introvert, dan cupu.
Bukan untuk cewek macam kau. Yang pintar, cantik, gaul, mempesona, keren, dan apalah itu..!!!

“aku gak tahuu kalo diaa udah punya istrriii…. Aku baru tahuu waktu ada wanita yang menelpon ke handphoneku yang mengaku istrinyaa.. dan dia meminta aku untuk tidak menggodai suaminya lagiiii…. Ryyy…. ”

Geeezzzz…. Aku akui itu memang tragis. Tapi aku juga tidak menyalahkan istri dari pria (maaf –red) brengsek itu. Apa yang dia lakukan sudah tepat, karena memang tugas dia menjaga suaminya dari tabiat lirak-lirik rumput tetangga. Aku juga memang tidak bisa menyalahkan keluguanmu walaupun untuk ukuran wanita usia 24 tahun, ini kedengaran konyol.

Aku menyalahkan pria itu dengan segala kekurangajaran yang diperbuatnya. Melanggar janji setianya kepada sang istri. mempermalukan istri dan anak-anaknya. dan mengakibatkan kau harus merasakan pengalaman pahit yang tidak layak kau rasakan untuknya.

“kok tega-teganya dia sudah menikaaaahhh, ryyyy…..”

Dan kamu masih menyalahkan pernikahan mereka…? Aku rasa kamu sudah harus dibawa ke psikiater.

“udah punya 3 anak lagiiii, rryyyy….. tegaaaaanyaaa….”

Serly, aku anterin kamu ke psikiater yuk… Sekarang. Gak bisa ditunda-tunda lagi….!

“mungkin aku memang tak pantas untuk dicintai…”

AAAARRRRGGGGHHHH…..!!! Serliiiiiiyy, penyakiittt jomblooooomuuu sudaaaaahhhh kroniiiiiisssssss….!!!!!

***

Aku tidak mengerti mengapa kau harus merasa tidak pantas dicintai. Darimana letak tidak pantasnya sih. Secara fisik, yang kutahu kau baik-baik saja, tidak mengalami kegemukan atau busung lapar. Secara kejiwaan juga, kau tidak menderita kegilaan, waham, atau penyakit kecemasan.

Lalu, apa itu diakibatkan oleh kisah-kisahmu yang lalu? Dengan si Jodi tukang ingusan? Atau Purwanto yang njawani itu? Atau Deki yang kamu jadikan babu..?

Kalau dari ceritamu padaku sih… kayaknya mereka yang jadi korban deh. Lagipula itu kan cerita usang. Terakhir kali kau pacaran bukannya 4 tahun yang lalu…? Aku jadi bingung…

Ya… ya…. Aku ingat sekarang…

Dulu kau pernah bercerita mengenai seseorang yang bernama Kevin, seorang pria kutu buku, berkacamata tebal, yang hanya berkawan dengan dunianya sendiri. Ia yang sederhana, ia yang kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah-pulang –red), ia yang bahkan untuk berkata saja harus terbata-bata. Lebih dari itu, Ia yang membuat jantungmu berdegup kencang, menggetarkan segenap hatimu, dan membuat duniamu seakan lebih berwarna.

Dan ya… Ia yang membuatmu jatuh cinta kan..?

Tapi tragisnya. Ia-lah orang yang pertama kali menolakmu kan…?

Menolak Serly yang popular, pintar, gaul, ceria, banyak teman. Sekaligus Serly yang juga rapuh, terasing, dan rentan.

Kau berkali-kali menekankan….

“aku tak mempermasalahkan harga diri. Karena memang cinta bukan masalah harga diri… dia punya nilai-nilai yang ia pahami sendiri, dan aku pun demikian… Mungkin aku memang tidak pantas untuknya”

Serly… aku tahu dibalik semua pandangan orang terhadapmu, dibalik wajahmu yang penuh tawa dan semburat senyum, ada kepercayaan diri yang sudah lama tak kau genggam akibat peristiwa itu.

Sejak itu, kau mulai menutup pintu hatimu. Dari sekian banyak perahu yang mencoba mampir di pelabuhanmu. Tak satupun yang kau biarkan menepi. Apalagi berlabuh. Karena kau menganggap kau masih terluka. Masih berduka. Dan masih harus berbenah membereskan perasaan yang tertinggal.

Tapi 4 tahun, lyy…. Empat tahuuunnn….

Dan ketika kau merasa sudah siap untuk membuka hatimu. Kau menyerahkan hatimu pada orang yang salah. Kepada om-om hidung belang, bahkan mungkin sekarang sudah motif zebra, yang sudah menikah dan beranak 3. Bahkan jangan-jangan mungkin dia sudah bercucu juga.

Kini om-om beristri itu telah melukai engkau yang kehilangan perisai. Mengakibatkan kau harus berdarah-darah menyeret tubuhmu sendiri keluar dari kubangan lumpur dan bergumul dengan perasaan tidak-pantas-dicintai, sisa-sisa dari penyakit-jomblo-empat-tahunmu itu.

Ckckck…

Andai aku bisa bicara…
Akan kuteriakkan kepada dunia, kalau bisa melalui TV, kucarikan kau pasangan yang pantas untuk berdampingan denganmu yang bisa melihat kualitas seorang kamu secara utuh.

Andai aku punya tangan dan kaki…
Akan kucari rumah Kevin, mengetok pintu rumahnya dan bertanya mengapa kau mencampakkan wanita seperti Serly…? Sehingga kau tidak harus menebak-nebak sendiri kalau kau tidak pantas untuknyalah, kau yang kurang cantiklah, atau kau yang merasa kurang pintarlah. Karena tidak ada istilah tidak pantas untuk bisa jatuh cinta kepada seseorang.

Setelah itu akan kutemukan om-om yang menyakiti hatimu. Kujenggut rambutnya, kukepang lengannya, dan kusuruh sujud di telapak kaki istrinya. Berikutnya untukmu, akan kutamparkan semua sudut pipinya. Tak hanya sekali. Beratus-ratus kali. Anggap saja pre-rajam. Lalu kurenggut handphonenya dan kuinjak-injak sampai hancur, agar tak ada lagi wanita lugu sepertimu yang bisa ia perdaya.

Andai aku punya hati seorang pria…
Mungkin sudah sejak lama aku jatuh cinta padamu, Serly.

***

Dear, diary…

Makasih yaaa… udah mau jadi tong sampah ceritaku yang paling sabar, gak banyak omong, dan nerimo, yang pernah aku punya. Kalau diukur-ukur kayaknya sampah curhatanku udah melebih gunung sampah leuwigajah yang dulu pernah bikin heboh cimahi ya, ry…

Kamu berbakat loo....

Jadi TPA. Tempat Pembuangan Akhir…

Heheheh… becanda…

Ohiya… sekalian aku juga mau pamit. Mungkin ini kesempatan terakhir kita untuk bersua.
Karena halaman ini halaman terakhir yang bisa aku isi darimu. Aku tahu mungkin kamu bakal seneng karena gak bakal lagi dengerin (eh… istilah penginderaan yang aneh untuk buku diary ya… hahahah… ngertilahyaa…) curhatan termehek-mehek aku lagi.

Atau… kamu malah sedih karena kamu mungkin gak bakal pernah dengerin cerita-cerita aku lagi…? Huhuhu… jangan sedih dooong, sayaaanngg….

Tenang aja ry… walaupun nanti peran kamu digantikan yang baru… tapi aku masih bakal ketemu kamu lagi kok. Apalagi kenangan yang aku toreh di kertas milkmu tak akan pernah hilang dan aku lupakan. Supaya kelak aku bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah aku yang kamu pernah kamu rekam di dalam diri kamu.

Kamu akan selalu menjadi sahabat terbaik aku sama seperti diary2 aku yang lainnya.
Mungkin di lemari tempat penyimpananmu kelak, kamu akan bertemu dengan sahabat-sahabatku waktu aku masih muda dulu. Jadi kamu gak akan pernah kesepian.

Dear diary…

Selamat bubu yaa…

Mataku yang bengkak ini udah gak bisa diajak kompromi nih… iyaa… tenang aja, sebelum tidur aku mau ngambil handuk basah untuk mengompres mataku. Supaya besok aku bisa menghadapi dunia dengan cerah seperti sedia kala.

Anyway…

Gd bye my besties…

I luv ya…

Cupcupmuahmuah…


Ttd
Serly

Tidak ada komentar:

Posting Komentar